Senin, 05 Mei 2014

Pesona Jawa Timur- My Jatim trip part 1- Blitar

Setelah tidak meninggalkan Jogja cukup lama akhirnya it's time to travel out the reality and get myself back together *cross fingers*

Perjalanan saya kali ini terinspirasi dari dua buah buku yang dipinjamkan seorang sahabat, sebuah kebetulan yang lumayan komprehensif dengan interest saya belakangan ini, yaitu  sastra dengan latar belaang sejarah, lebih spesifik lagi sastra sejarah dengan setting Jawa kuno.

Awalnya agak sulit menentukan titik awal di kota mana saya harus memulai perjalanan saya. Banyak masukan, dan tentu saja, untuk Jawa Timur, banyak sekali objek wisata budaya yang bisa dijelajahi, termasuk yang berkaitan dengan Majapahit.

Yang menjadikan Jawa Timur sebagai daerah atau propinsi ini sangat potensial sebagai kunjungan wisata adalah keseimbangan jenis wisata mulai dari budaya, alam, agraria dan kuliner. Budaya dan Alam yang begitu kaya dan seimbang, meski tidak bisa terlepas dari kehidupan kota dan modernisasi,  Jawa Timur  begitu mempesona.

Sebenarnya kota yang saya kunjungi belum banyak, ibaratnya masih terhenti di tengah jalan. Rencana awal saya akan memulai perjalnan Blitar-Mojokerto-Pacet-Probolinggo-Malang-Lumajang-Jember. Namun dua kota terakhir seperti nya belum berjodoh dengan saya. Keterbatasan waktu dan dana membuat saya harus kembali ke Jogja. Total perjalanan yaitu  kurang lebih 1 minggu. saya mulai tanggal 20 April berangkat dari Yogya ke Blitar dan pulang tanggal 26 April berangkat dari Probolinggo-Yogyakarta.

Dari Yogya ke Blitar saya naik kereta, harga tiket ekonomi AC Malioboro Express adalah Rp 150.000. Menurut saya cukup mehong untuk ukuran kursi berempat hadap-hadapan dan jarak tempuh sekitar 5 jam saja. Sama aja naik TER Chartes-Paris sekitar 14 Euro. Tadinya saya pikir dapat kursi yang berdua-dua jadi lebih nyaman, ternyata tidak. Mungkin ini kesalahan pada saat reservasi. Kebetulan saya membeli dari Alfa Mart, yang mengatakan ini duduk berdua padahal tidak. Saya cek kembali, untuk kelas ekonomi AC sebenarnya bisa membayar seharga Rp 115 ribu sampai Rp 120 ribu, dan untuk eksekutif sudah seharga Rp 150ribu, jadi tiket saya itu....????

Next time menurut saya kalau mau beli tiket langsung ke stasiun saja. Kereta dari Blitar itu berangkat malam, Malioboro Express berangkat jam 10an, Ada juga Malabar dan Argo.Nah diperkirakan sendiri saja mau tiba jam berapa. Kemarin itu saya berangkat jam 10 malam sudah antisipasi tiba di Blitar jam 3 subuh, jadi harus sudah ada hotel untuk naruh backpack super gede dan slonjoran dikit. Nah cukup jarang hotel yang mau nerima check in segitu dan tidak dihitung satu malam.

Hotel Blitar
Saya sudah memperkirakan akan dihitung 1 malam dan memutuskan masuk ke hotel Sri Redjeki. Nah yang agak susah di Blitar itu transport. Adanya becak dan ojek. Saya yang melihat peta waktu itu berpikir hotel tidak terlalu jauh, sekitar 1-2 kilo memutuskan jalan kaki, mumpung jalanan sepi. Akhirnya mengandalkan navigasi seadanya yang mengakibatkan saya keliling kota sedikit sebelum sampai di hotel, pukul 4.30 saya tiba di hotel Sri Redjeki. Hotel tua ini memiliki banyak kamar, dan melihat parkirannya sepertinya sering digunakan supir-supir mobil kanvas untuk menginap. Tidak menarik sama sekali dari luar, lampu lobby bahkan tidak menyala. Tapi sesuai tujuan saya kesana, yaitu YANG PENTING MURAH, saya pun oke oke aja dan mengambil kamar dengan harga Rp 60 ribu per malam. .Ehem, i dont feel like talking about the ugliest room in my life, tapi memperkirakan saya seharian ini akan berada di luar ruangan, saya pun sibuk menghibur diri dan tepat pukul 8 setelah mandi dan sarapan kopi*fasilitas hotel* saya pun cush memulai petualangan saya. Di lobby saya sempatkan ngobrol dengan resepsionis yang ramah soal rencana saya hari ini. Mulai dari dimana saya bisa sewa motor ataupun kendaraan umum. Jawabannya, tidak ada, Blitar hanya punya ojek dan becak. Lalu saya pun bertanya jarak tujuan pertama saya yaitu Museum Bung Karno. Karena hanya sekitar 1-2 kilometer, saya pun memutuskan untuk...Jalan Kaki. Dan untuk transport ke Candi Penataran, saya putuskan menunggu wangsit setelah saya sembayang di makam Bung Karno.

Kompleks makam dan Museum Bung Karno

Museum Bung Karno , view dari Makam
Kurang lebih 30-40 menit berjalan kaki santai, lurus saja dari hotel, saya pun tiba di Kompleks makam dan museum Bung Karno. Suasana turistik sangat terasa di sepanjang jalan banyak kios menjual suvenir berbau Bung Karno. Tiba di area parkir, sekelompok marching band anak-anak keluar dari kompleks museum. Wah berasa disambut *geer*. Saya pun dikerubutin ibu-ibu yang menjual bunga untuk ditabur di makam bung Karno *lebay padahal yang datengin cuma 3 orang ibu-ibu*. Satu kantong plastik berisi kembang dijual seharga Rp 5000. Masuk ke museum dan kompleks makam pun tidak dipungut biaya. Masuk dari arah kota, kita akan dihadirkan dengan lay-out kompleks design arsitektur yang modern. Sophisticated dengan patung besar Soekarno sedang duduk dan juga quotes dari Orasi beliau di setiap tiang. Saya bingung harus mulai dari mana.

Akhirnya saya putuskan masuk ke museum, sebenarnya buat ngadem.Setelah berjalan kaki dan udara memang cukup panas hari itu, saya putuskan to chill out sebelum perjalanan saya yang masih akan sangat panjang hari ini.

Standard museum tokoh nasional, display objek kaku dan tidak terlalu banyak benda bersejarah yang berhubungan dengan bung Karno. Lebih banyak foto, lukisan dan lebih informatif tentang sejarah dan biografi Bung Karno. Satu hal yang menarik menurut saya yaitu ini;

Apakah sekarang Indonesia sudah bebas buta huruf?
Pertanyaan itu muncul di kepala saya. Begitu banyak kata-kata beliau yang jika Anda baca, membuat semangat menjadi berkobar. Sayangnya, sepertinya tidak banyak anak muda yang memiliki desire terhadap sejarah perjuangan dan peninggalan budaya. Satu hal tentang Bung Karno, beliau memiliki semangat dan karisma luar biasa yang yang bisa menjadi inspirasi untuk membuat suatu perubahan. Beliau juga adalah seorang pecinta kesenian. Sejarah adalah sejarah, past is past apa yang penting sekarang. Sayangnya mood saya cukup apatis tentang politik, jadi saya cukup menghela nafas panjang dan melanjutkan ke makam Bung Karno untuk menabur bunga.

Candi Penataran

Candi ini terletak 10 km ke utara Blitar. Dari Makam Bung Karno lurus-lurus saja ke arah utara. Nah permasalahannya, tidak ada angkot atau bus umum menuju kesana. Jadi dari kompleks makam, jika Anda bertanya orang di sekeliling Anda maka mereka akan menganjurkan Anda naik ojek dengan biaya sekitar 20 ribu, satu kali jalan dan 40-50 ribu pulang pergi. Saya yang beruntung hari itu duduk-duduk di penjual es kelapa berhasil meminjam sebuah motor seharga 80 ribu per hari, tanpa batasan waktu. Saya tidak tahu seperti apa kompleks Candi Penataran dan berapa lama waktu yang akan saya habiskan disana. Jadi pilihan terbaik memang sebaiknya naik motor sendiri, sambil mampir-mampir kali aja ada yang menarik dan saya tidak menyesal dengan pilihan saya ini.

Akhirnya, bermodal nekad, dan tanpa meninggalkan ktp saya pun meminjam eh menyewa motor seorang tukang becak. Perjalanan menuju Candi Penataran so beautiful guys, dengan hamparan sawah dan nuansa pedesaan, it was a nice ride. 30 menit kemudian saya tiba di Candi Penataran, hanya mengikuti penunjuk jalan dan akhirnya bisa parkir di halaman penduduk, yang sepertinya memang untuk parkir. Siang itu cerah, tidak terik menyengat. Masuk kompleks candi yang cukup luas ini tidak dikenai biaya masuk, cukup menuliskan nama dan asal saja, sepertinya untuk data saja. Saya juga tidak membeli buku, hanya bermodal refrensi hasil google di internet. Yang jelas, candi ini dibangun dan digunakan sebagai tempat sembayang atau pemujaan di Jaman Kerajaan Majapahit, sekitar tahun 1300an Masehi. menurut beberapa situs sejarah, disinilah Patih Gajah Mada membuat janji atau sumpah Palapa.

Bentuk Candi Penataran

Bentuk Candi ini mirip dengan candi-candi Hindu lain di Indonesia. Patung-patung dewa dan binatang perlambang Hindu pun sangat jelas. Arca dan selubung tiang pun berciri khas Hindu. Sebagai awam, bentuk Candi dan lingkungannya sangat menarik dan asri. Saya akan coba menggambarkan pengalaman saya mengunjungi candi sebagai awam. kompleks Candi terbagi menjadi tiga bagian; setelah pintu masuk ada taman dan teras atau pendopo terbuka. Bagian tengah yaitu Candi Utama, diapit dua arca, dan bagian belakang teras bertingkat dengan pemandangan menuju kebun, gunung dan persawahan.

Teras depan sebelum menuju Candi Induk, sekelilingnya penuh dengan relief cerita


wide shoot candi tengah, dimana ada ruangan di dalamnya , di kanan dan kirinya ada diapit arca.


Teras belakang, a path to an amazing view.
Jika harus berbicara detail tentang Candi ini sepertinya postingan kali ini tidak akan pernah selesai. Beberapa bagian candi detailnya sangat menarik, emnyangkut relief dan arca. But here i can share you my fave shots of Candi Panataran:

view kompleks candi dari Candi Utama dengan teras atas


landscapae dari atas candi
Di atas candi Penataran, ada teras luas, yang mana viewnya very relaxing. Awan yang cerah, teman yang sempurna menyengarkan mata. Saya tidur siang sebentar di atas sana, dan tidak takut hitam.


Perjalanan menyusuri kota Blitar belum selesai, tapi misi ke Penataran is checked! See you soon ...

Chinta