Senin, 30 April 2012

All the way to loudes: Château de Valençay

sambungan dari post sebelumnya...


Dipostingan sebelumnya saya bercerita tentang hari kedua dari perjalanan saya menuju Lourdes. Dari  Lourdes kecil di Pellevoisin, kami lanjut menuju kota Valençay, tidak jauh dari Luçay le Mâle tempat bude Nungky dimana kami menginap selama dua hari. Di Valençay, kami sempat mengintip pasar pagi lalu berkunjung ke château de Valençay, yang adalah kediaman seorang bangsawan Prancis kepercayaan Napoleon masa itu, pangeran Talleyrand.

gambar dari Talleyrand, saya ambil dari sini



Pada masa kerjaan dibawah kepemimpinan Napoleon Bonaparte, Talleyrand dipercaya sebagai diplomat dan mengurus hubungan dengan berbagai negara antara lain seperti Spanyol, dimana di istana ini tinggal pula beberapa putri tawanan dari kerajaan spanyol, lalu ia juga menjadi diplomat untuk hubungan dengan kerajaan Inggris dan  Amerika Serikat.

bagian tengah chateau sebelum menuju pintu utama di sebelah kanan ketika memasuki gerbang utama, dimana terdapat kolam besar yang sekililingnya ditanami bunga tulip

Bagian depan chateau dari luar area chateau
Kamar tidur dari istri jendral Talleyrand

dekorasi langit2 yang selaras


kamar Talleyrand

Semua masih asli, dengan baju-baju yang pernah dikenakan terpajang rapih, mantabbb


Salah satu kamar seorang putri, manis banget ya warnanya, yang menarik semua tempat tidur ukurannya keciiiill, apa tidurnya meringkuk apa emang kecil badannya?



kamar mandi dan ruang ganti, liat bak mandinya, mini juga
Jamban bangsawan...;hohohoho
Putri yang paling cantik di masanya, namanya lupa catet hehehe maaf

tempat tidur dan meja riasnya, duh liat botol2 parfumnya

ruang makan, nuansa hijau juga


royal kitchen wow

area memasak, barbeque, maaf yah foto dapurnya banyak, maklum ibu2
tempat cuci daging dan gilingannya, buset canggih bener buat jaman itu ya

Area yang dibuka untuk umum tidak banyak, sepertinya sebagian besar wilayah castle digunakan untuk kepentingan lain seperti konfrensi dan seminar, yang juga ditawarkan oleh situs dari castle ini. Namun secara keseluruhan, castle ini terpelihara dengan baik,  seperti juga castle lainnya, dengan barang-barang yang dipajang masih asli, pasangan lantai dan dinding juga masih asli. Dari segi kemewahan, memang tidak semewah chateau lain yang pernah saya kunjungi, yaitu Château de Chenonceau, tempat tinggal Marie Antoinette misalnya dan juga putri-putri lainnya. Maklum, castle ini dihuni dan dimiliki oleh seorang pria, jendral yang mungkin seleranya cukup sederhana. Tapi beberapa bagian yang saya suka adalah antara lain:

Piano tua di ruang bermusik


Pasangan dinding yang vintage abis

lantai asli dengan pasangan ubin sederhana


payet di baju jendral, buset, mantap beneer, dan 
=



dapurnya!!!!!

Bagian yang menarik lainnya pastinya adalah taman, belakang, yang mana bisa terlihat semua pemandangan area lembah dan bukit, lalu lukisannya, yang jujur saja, gatal banget untuk tidak saya sentuh, pastinya, sebelum membaca tulisan disebelahnya:

dont touch, ups;...too late

turis cantik di depan air mancur

kebun belakang dengan pemandangan pedesaan, spring oh spring


Bagus yah castlenya? Jadi pesan saya, Perancis itu tidak hanya seputar Paris saja, tapi setiap bagian dari negara ini sangat indah untuk ditelusuri, dan jika teman suka museum dan istana, deretan Châteux de Loire sangat layak untuk ditelusuri. Cerita perjalanan menuju Lourdes akan saya sambung di postingan berikutnya, segera!!

Chinta

All the way to Lourdes: visiting castles

Seperti yang sudah saya sebutkan pada post sebelumnya, dua minggu liburan spring tahun ini, akan saya gunakan untuk wisata rohani saya. Minggu pertama,kami akan mengunjungi kerabat dari Indonesia, bude Nungky, yang tinggal di Luçay le Mâle, sekitar 3 jam dari Chartres, sekalian mengunjungi istana raja-raja dan bangsawan Perancis di sepanjang sungai Loire, lalu setelah itu perjalanan kami lanjutkan ke Toulouse, salah satu kota terbesar di Perancis, untuk melanjutkan perjalanan ke LOurdes. Total perjalanan adalah 6 hari, sebagian dengan menggunakan kereta dan total stop (menginap) adalah 2 malam di Luçay, 2 malam di Toulouse (arah pergi dan pulang), lalu 2 malam di Lourdes. Total kota yang dikunjungi adalah 12 kota: Orleans, Blois, st Aignan, Chambord, Valençay, Lucay le Male, Pellevoisin,  Bourges, Châteauroux, Toulouse, Lourdes, dan Paris. Banyak kan?? Maklum, tidak ada rute langsung Chartres- Lourdes, jadi kami harus melakukan zig zag untuk bisa sampai ke LOurdes. Naik turun kereta, melelahkan, namun bagian dimana kami bisa mengunjungi kerabat, lalu ibadah kami di Lourdes yang semuanya berjalan lancar, memberi kami kekuatan untuk pulang kembali ke Chartres, dan mempersiapkan diri untuk perjalanan kami berikutnya: Roma.

Ini dia beberapa dokumentasi dan cerita saya, enjoy ...


First day, Chartres-Lucay le Mâle

Perjalanan dimulai senin, dimana berhubung tidak ada kereta langsung bisa sampai ke rumah bude Nungky di Luçay, kami kemudian naik bus ke Orleans, untuk naik kereta ke Blois, dimana bude Nungky akan menjemput kami. Sesuai ramalan cuaca sepanjang minggu ini, kami pergi dengan hujan, tiba disambut hujan dan sepanjang hari adalah hujan dan angin. Tapi seperti kata pepatah, sehabis hujan ada pelangi, saya yang sendiri mengatur dan bertanggung jawab atas mama dan Gilang, harus semangat, sok tahu dan pede membawa mereka selamat sampai ke tempat tujuan.

Katedral de Blois, cuma motret singkat, karena hujan, dan sedang ada renovasi bagian bawahnya, sekilas mirip lah dengan katedral di Chartres





Sebelum menuju Luçay, oleh bude Nungky, kami dimampirin dulu mengunjungi Chambord, dimana ada istana lain, tidak masuk ke dalam karena cuaca berubah hujan angin dueress banget


Tampak depan Château de Chambord

Kejutan kecil dari perjalanan dimana kami diajak bude ke "LOurdes Kecil" di Pellevoisin, berkesan sekali untuk saya dan mama

Hari kedua kami setelah tiba di Luçay le Mâle, bude sudah berencana mengajak kami mengunjungi château de Valençay, dan juga lourdes kecil, dimana di sebuah kota kecil bernama Pellevoisin, pernah tinggal seorang gadis bernama Estelle Faguette, yang pada masa kecilnya sakit-sakitan, lalu ia sering berdoa dan menuliskan surat permohonan untuk kesembuhannya pada bunda Maria. Di rumahnya inilah, yang sekarang dijadikan biara, kapel dan tujuan wisata rohani, dimana ada juga gua maria, Estelle menerima penampakan bunda Maria sebanyak 12 kali, dimana kemudian Estelle kemudian diberi umur panjang, dan meninggal pada tahun 1929, pada usia 86 tahun. Saya juga sempat berziarah ke makam beliau yang tidak jauh letaknya dari sanctuary. Yang berkesan bagi saya, dalam perjalanan ke sanctuary ini, kami disambut hujan dan badai, namun setibanya di sanctuary, matahari menyembur dengan hangatnya. Gilang pun tertidur di mobil, jadi saya bisa masuk sebentar dan berdoa di kapel kecilnya. Saya tidak bisa mengambil foto karena sedang ada misa dan hening doa dari suster-suster biara. Saya sempatkan memasang lilin, dan berdoa di kapel yang hangat dengan nuanasa warna creme dan emas. Sebelum pulang, sambil menunggu mama selesai berdoa, saya memandang isi kapel sambil mengucap syukur diberi kesempatan  mengunjungi kota ini. Lalu seorang suster biara menyampiri saya, ia tanya saya berasal dari mana, saya jawab dari Indonesia, suster tersebut berasal dari korea. Lalu kami ngobrol sebentar, dan ia menceritakan kisah Estelle dan biara kecil ini. Lalu kemudian suster tersebut berpesan untuk terus berdoa dan bersyukur dengan perantaraan bunda Maria, atas semua berkah semasa hidup kita. Pesan yang indah, saya aminkan dalam hati sambil menyambut tangan suster dan pancaran matanya, sekali lagi, saya merasa dikuatkan. Kami pulang untuk melanjutkan perjalanan ke Valençay, sebelumnya, kami ziarah ke makam Estelle Faguette. Untuk cerita tentang sanctuary ini, bisa baca disini.


bersambung....



Jumat, 20 April 2012

Menyusuri Chartres kota tua Journey 2: destination Eglise st.Pierre

Salut,

Hari ini saya akan update seputar Chartres. Post ini adalah sambungan dari posting sebelumnya Menyusuri kota tua Chartres Journey 1 . Perjalanan saya menyusuri kota tua hari ini ditemani oleh mama, yang baru saja tiba di Chartres sebelum hari Paskah kemarin. Seminggu sebelum pekan paskah, cuaca musim semi yang saya agung-agungkan berubah drastis, hujan, angin dan dingin. Too bad for my mum who was expecting to enjoy the most of spring in Chartres. Tapi tidak apa, air hujan dibutuhkan pepohonan dan bunga-bunga musim semi yang baru saja ditanam. Siang itu saya putuskan mengajak  mama menyusuri kota tua, mengunjungi gereja tua lalu gereja st. Pierre, st Aignan dan mengamati gaya arsitektur mideval kota tua Chartres.

Tujuan utama adalah mengunjungi st.Pierre, ya, saya akui, saya adalah pemandu wisata yang sangat egois, dimana antusiasme saya melebihi turis lebih pada objek wisata yang sebenarnya belum pernah saya kunjungi. Jadilah hari itu kami mengunjungi st. Pierre, gereja tua yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, hohohoho....
Gereja st Pierre ini menggemaskan, karena fasadnya dari jauh sudah terlihat begitu menggoda, namun begitu tiba di hadapannya sulit sekali menggambil foto gereja ini secara keseluruhan. Gemes!!!!



I hve to admit, that i am dying for a new camera, but my curiosities won most of the time, that i had to whatever i can, taking a picture at my most with whatever weapon i got. Gereja St Pierre ini, adalah salahsatu monumen bersejarah, konon dibangun sejak abad ke- 7 (tahun 700), lalu pernah dibakar dan dihancurkan pada tahun 800an, kemudian terus menerus dibangun hingga jendelanya diselesaikan pada tahun 1400. Menurut sumber-sumber yang bisa dipercaya, salah satunya Church of Chartres bentuk dan penyelesaian gereja dengan gaya gothik ini pada akhirnya semakin menyerupai katedral (de Chartres), yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari gereja ini. Di gereja ini pula ditemukan makam-makam para uskup masa itu. Tepat disebelah gereja ini, terdapat sebuah sekolah menengah atas (lycee)paling prestisius di kota Chartres, Lycee Marceau.

Ayo susuri isi gereja St Pierre bersama saya...

Pintu utama, dua lapis, khas gereja mideval, dengan turis pendamping saya mejeng didepannya

Bagian inti gereja, altar, dan langit2 yang tampaknya mulai mengelupas, sehingga harus diberi jaring

Lalu dari pintu masuk sisi kanan terdapat patung st Theresia (st thérése), sebuah salib besar, dan seperti tutup peti atau tomb dengan pahatan salib diatasnya, saya berpikir, what de maksudnya neh? creepy...


Patung yang seperti sudah sangat tua, dari paus pertama
Sebuah pojok arkeologi, dimana ditemukan kumpulan makam, sayangnya kok foto galiannya gak jadi (klenik ini), padahal cahayanya cukup

Pada pojok devosi untuk bunda Maria, terdapat pasangan lantai membentuk peti seukuran manusia bule dengan ukiran gambar seorang martir, dugaan saya tepat dibawahnya dimakamkan seorang bishop atau orang penting gereja

Patung bunda Maria yang sudah sangat tua, dengan sebuah meja tua di depannya, tanpa bunga (tanpaknya sepi kunjungan), tanpa tempat lilin, dengan taplak yang sangat tua, hummm, nice



 Kunjungan ke gereja st Pierre ini berkesan, bagaimana tidak, gereja yang hanya dibuka mulai jam 2 siang ini hari itu hanya berisikan dua turis canggung. Kenapa canggung? Karena pertama masuk langsung belok kanan, dan berdoa di depan patung st Theresia yang kami kira adalah patung bunda Maria, hohohoho.....sadarnya pun ketika saya selesai, dan mama belum, saya lalu melotot membaca plakat terima kasih (yang biasanya dipaku di tembok), dengan tulisan "Merci st Thérese". Jadilah saya menelan ludah, oh no, lalu menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu mama. Lalu, ketika sedang celingak celinguk di gereja yang sepi itu, tiba-tiba, di kanan saya menyala-lah lampu pada sebuah area yang diberi pembatas, berisikan galian makam-makam yang mana memberi sensasi horor, dimana saya sempat meloncat sedikit karena kaget. Akhirnya setelah memberi tahu mama bahwa tadi bukan patung bunda Maria, mama yang kemudian dengan santainya lanjut doa di patung Maria, saya yang sudah il-feel terlanjur salah curhat, sibuk motret-motret dan memutuskan mengambil foto sebuah kaca patri gambar bunda Maria yang sangat cantik, ini dia hasilnya:

Akhir dari kunjungan di St Pierre, same objects, different angle...

Catatan saya dari kunjungan-kunjungan saya di gereja tua Chartres, adalah, pentingnya sosok st Theresia yang mana foto dan patungnya terdapat hampir di semua gereja, dengan jumlah pendoa yang bersaing dengan bunda Maria. Akhirnya teka-teki itu terjawab sudah, dimana teringatlah saya pada sebuah adegan di film La Môme, kisah penyanyi Edith Piaf, dimana waktu kecil ia pernah buta karena sakit mata, lalu dibawa pengasuhnya untuk ziarah ke makam st Theresia di Normandie (bagian utara Perancis), lalu Edith kecil pun sembuh dari kebutaanya. Siapakah santa Theresia yang masyhur itu?

Kisah tentang santa Teresia bisa teman cari sendiri di internet, namun secara khusus saya akan membahasnya setelah perjalanan pilgrimage saya dua pekan kedepan.

Kembali ke kunjungan bersama mama di kota tua: dari st Pierre kami pun lanjut berjalan ke gereja St. Aignan yang saya bahas pada "Menyusuri kota tua chartres 1", lalu  penyusuran saya dan mama kemudian berlanjut pada bangunan dan rumah-rumah tua mideval dengan gaya arsitektur yang khas Perancis. Pembahasannya? Tunggu posting berikutnya ya? Sampai nanti, 

Chinta

Kamis, 19 April 2012

Paskah Kemarin

Halo halo,

Perayaan paskah kemarin sangat berkesan, dimana mama datang mengunjungi kami. Budaya mencari telur ternyata sama dengan di Indonesia, hanya saja, telurnya disini lebih sering digantikan dengan telur cokelat, yang menurut saya susah diaplikasikan di Indonesia, karena bisa jadi pada saat telur ditemukan sudah meleleh. Bagian yang menyenangkan dari paskah kemarin juga adalah makanannya yang seabrek, dan juga pastinya, dekorasi paskah!! Harus saya akui, ibu mertua saya tidak ada tandingannya, ini dia foto-foto perayaan paskah kemarin.


Kelinci dan telur paskah yang "disembunyikan"
Dengan dua nenek mendampingi, it shud be a perfect day for Gilang
"It is my chocolate!!" said Sauchette
Let us counting the bless...

Gilang's cousin Naoma and her basket
Table decoration by Martine Leonardy, i must say, impressive!!


So let's say it was such a nice day....sorry no picture of the foods, need to be humble a bit once or twice..hehehehe....sampai nanti....


Chinta

Jumat, 06 April 2012

"Bis-pak" yang menyenangkan...

Dan sepatu cantik itu ...tamat sudah riwayatnya...bagai penyakit, bolong di sepatu kanan menular ke sepatu kiri, lengkap sudah alasan saya untuk ganti sepatu!!!

Tapi kali ini, bukan dengan yang baru.....sebuap sepatu kulit jahit tangan bekas pakai yang menyenangkan, perkenalkan, teman sejati saya belakangan ini,

Not bad huh??,
Bye2 ijo, thank you for accompanying me....rest in peace....

My Ijo in memory...


Enjoy your weekend, selamat paskah 2012, new life, new spirit, yeah!!


Chinta