Rabu, 30 Maret 2011

Sungguh ku tak sabar untuk segera pulang........banyak cinta menantiku disana

Halo ha,
kenapa jadi melankolik gini, ...hehehe maklum lama ga nulis dan sebentar lagi mau pulang kampung............
Setelah hampir tiga bulan di perantauan, seperti layaknya manusia dan mahluk hidup yang lain, saya mulai beradaptasi, bibir sudah ga kering lagi, batuk pilek sirna, kesehatan membaik, berat badan juga pastinya naik akibat konsumsi daging dan keju secara tidak berlebihan namun berkelanjutan.............
Musim semi juga sudah di depan mata, dan saya sudah mulai mendapat hampir cukup asupan sinar matahari..........dan benar2 menikmatinya. Ironis sekali ya, di kampung halaman, seingnya orang menghindari matahari, panas dikit cari tempat berteduh, disini kebalikan, semua orang mencari matahari, berjemur, menikmati sebanyak2nya, heheh, jadi ingat suatu hari, saya jalan2 ke Paris, trus melewati sebuah cafe di daerah St Sulpice, dan banyak sekali orang mulai berjemur menghadap ke satu arah, arah matahari sambil menikmati minuman mereka, dengan kaca mata hitam pastinya...........
Tunggu mejeng dulu ah...photograph by Bapak Mertua saya Chris Norman



Pendapat saya keseluruhan tentang negara ini, hem, banyak stereotype yang benar, seperti romantisme dan fantastic culinary, orang Prancis yg ogah berbahasa Inggris tapi selain itu, menurut saya seperti dimana saja, selalu ada orang baik dan orang yang tidak baik, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Disini saya melihat orang orang hidup dengan sistem individualisme, modernisme, berarti segala sesuatu diharapkan efisien dan efektif, lalu budaya yang sudah cukup tua dan masyhur memberi fanatisme tersendiri bagi orang Perancis. Banyak sekali perbedaan dan GAP dengan budaya saya, budaya Indonesia, yang mana saya yakin sudah banyak sekali terintegrasi dan terkontaminasi dengan budaya lain...

Yang saya tahu dan sadari tertanam di dlm diri saya, budaya kolektifisme, segala sesuatu memikirkan kenyamanan dan kepentingan bersama, gotong royong, saling menghargai, saling berbagi, jadi ingat kalo makan dengan teman2 pastinya cocol sana cocol sini, sruput sana sini, itu budaya saya, lalu sedapat mungkin, tidak fanatic dengan apapun , agama, suku ras, karena di PPKN diajar demikian, hehehe, dan sedikit kebudayaan JAWA yang saya adaptasi meskipun saya bukan asli JOWO adalah sikap, SANTUN dan NRIMO dengan berprinsip sesuai dengan kata pepatah lama, "Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung". Dan ternyata kalo di aplikasikan di Perancis mudah2an tidak sulit untuk beradaptasi. Orang sini sangat menjunjung tinggi sopan santun atau dalam bahasa ingrris politeness, kalo dlm boso prencish hehehe politesse.........atau bahasa umumnya kita kenal dengan manner.........atau TATA KRAMA dalam bahasa Indonesia lainnya; Jadi saudara2 disini sangat penting, dan hal yang basic adalah sama di mana saja, yaitu mengucapkan kata TOLONG , s'il vous plais en francais, kepada orang yang dimintai sesuatu, dan belum kita kenal, dan TERIMA KASIH, disini sebutnya merci. Gampang bgt toh??? Malah kalo dibandingan dengan tata krama Jawa sepertinya lebih banyak aturan TOTO KROMO, seperti kalo disini, ga perlu membungkukkan badan kalo ngelewatin orang tua, atau orang lain. Hem, itu bagian sopan santun, nah bagian NRIMO wah wah wah ini penting bgt. Kalo orang sini itu tabiatnya dominan dan keras, selalu ngerasa paling bener, paling pinter, bahkan jika dibandingkan dengan orang Eropa dan orang barat lainnya. Gak Percaya?? tanya deh sama teman2 yang berkeluarga dengan orang Prancis lainnya. Nah, dengan demikian, dalam berargumentasi, atau memberikan pendapat atau sekedar ide, jangan kaget kalo KURANG dihargai. Mungkin tergantung juga dengan orangnya, tapi kurang lebih mereka seperti itu jadi berkesan sombong. Saya ga kebayang kalo saya masih totok dengan tradisi saya yang asli Makassar atau kalau saya orang Batak asli dengan karakter DEFENSIF, pastinya lebih susah mengerti karakter orang Prancis yang selalu ngerasa paling bener ini. Ini pendapat loh, dan sangat subjective saya. Seringkali saya merasa DIJAJAH, dan dianggap ga kompeten,ga berprinsip karena sering saya malas berpendapat, tapi orang bisa menilai sendiri bagaimana benernya. Saya sering tidak merasa perlu berpendapat, atau berinisiatif tinggi, bukan berarti tidak berinisiaatif ya, karena saya merasa, saya masih dalam tahap belajar. Sistem ini dan itu saya blm paham bener, jadi mending ikut arus aja. Tapi ternyata disini, mengemukakan pendapat itu sangat penting. Sering kali kita bertemu dengan orang baru, dan mereka senang sekali bertanya ini itu dan membuat saya merasa seperti diinterogasi. Dan seringnya, karena budaya kolektifisme saya cukup kental, saya sering sangat menjaga pendapat saya di ranah diplomatis, karena memikirkan dampak dari pendapat saya ke orang lain apalagi ke diri saya sendiri, .....eh ternyata disini ga penting. Menjadi apa adanya dan berpendapat sebebas2nya ternyata karakter dan style orang Prancis. Negara lahirnya demokrasi. Belum tau aja diaya kalo saya aslinya sangat sarkastic dan apa adanya dalam menilai sesuatu.

Hem, sungguh tidak sabar pengen segera pulang, bertemu dengan orang2 sejenis saya, moderate, kolektifist (ngarang istilah), dan nyeni...hehehehhe,
jadi ingat lagu nya KLA.........pulang kekotamu...ada setangkup haru dalam rindu................

Kangen rumah, kangen dogi2, Bomines, kangen temen2, si SILET yesi, Monic, tyasGeng, maswang, kangen DINIera, kangen Anne diyen pacar setiaku, kangen Indah Pusparani, kangen adiknya juga si LIL DEVIL mitha astari, kangen keluarga Gentan, kangen kakakku si fierlan yang unik klenik,  kangen sambal SS, hehehehe kangen gudeg....................cendol, klepon, nyok nyang asli jalan hasanuddin, kangen kangen kangen


Chinta

Sabtu, 12 Maret 2011

Gilang dan Kuda

Tidak banyak yang menarik dari kehidupan di St. Arnoult, selain saya tidak berkendara sendiri dan rumah tempat kami tinggal sementara dengan orang tua Gareth jauh cukup jauh dari pusat kota. Tapi tinggal di pinggiran ternyata cukup menghibur bagi Gilang. Pertama, Gil sangat suka kuda, kedua, rumah kami sangat akrab dengan lingkungan yang berkaitan dengan hewan yang satu ini,  tetangga yang berbatasan dengan kami, yang pertama adalah peternak kuda untuk polo sport, yang kedua, tipe klasik orang yang sudah tua di Prancis, selain memelihara anjing dan lain-lain, mereka juga senang memelihara kuda, meskipun tidak untuk ditunggangi.


Gilang dan Martine (grandma), on the back of Paseo (horse)



Ibu mertua saya, Martine,  sangat hobi berkuda. Paling tidak lima hari dalam seminggu, ia menunggang atau merawat kuda. Saya dan Gilang tidak banyak kegiatan, ajdi biasanya kami  ikut ke stable. Kalau cuaca tdk terlalu dingin, selain berjalan2 di sekitar, saya dan Gilang  mengamati kuda-kuda peliharaan orang lain, para penunggang kuda, dan sesekali Gilang bisa menunggang kuda neneknya (mamy).

Kuda-kuda pada musim dingin

Lihat wajahnya yang sangat senang!


Kalau saya sendiri tidak terlalu tertarik dengan kuda. Oleh karena itu, sampai sekarang saya belum pernah mencoba menunggang kuda. Saya lebih tertarik kepada lingkungan dan orang-orang yang hidup dari hobi ini. Seperti para pelatih berkuda (ehem!), orang-orang yang bekerja di lingkungan stable dan tentu saja, saya bisa sedikit berprasangka tentang kepribadian dan status sosial seseorang dari penampilannya berkuda. Namun dari semua itu, suati hari saya memutuskan untuk lebih produktif dan mengasah kemampuan jurnalistik saya.

Beberapa waktu yang lalu saya mencoba membuat liputan tentang pekerjaan membuat sepatu kuda, yang mana membuat saya berpikir bagaimana orang di Indonesia melakukannya. Terus terang, ini pekerjaan keahlian, sangat menarik dan saya merasa beruntung berkesempatan mengamati, bertanya beberapa hal dan membuat dokumentasi.

Seorang Pandai Besi, khusus Pembuat Sepatu Kuda, sedang mempersiapkan tapal kuda yang baru
Dimulai dari proses, mengukur, menyocokkan, merapihkan, dan lebih tepatnya seperti Pedicure!
Seorang pandai besi pembuat sepatu kuda disebut fér à cheval. Dibutuhkan sekolah khusus dengan jenjang pendidikan 4 tahun (sarjana bo!) agar bisa menjadi pembuat sepatu kuda BERSERTIFIKAT. Tidak termasuk waktu magang yang harus ditempuh. Mau jadi tenaga ahli geto lochhhh emang di Indonesiaaaa..:P

Sepatu kuda menjadi penting ketika kuda digunakan untuk olahraga seperti polo, atau ditunggangi secara rutin. Kuda perlu mengganti sepatu kurang lebih tiga bulan sekali, dimana pada saat musim panas bisa hingga enam minggu sekali, dan biaya penggantian sepatu ini sekitar enam puluh hingga tujuh puluh euro (sekitar tujuh ratus ribu rupiah) termasuk ongkos pedicure-nya .Ayo, coba dirupiahin!!!



Mama dan Gilang mejeng dikit ahh...


Begitulah kehidupan kami belakangan ini, hari ini sepertinya jauh lebih baik dari hari-hari kemarin. Semakin hari semakin berbeda saya melihat hal-hal disekitar saya. Menikmati hidup apa adanya, kok tidak semudah yang sy pikir, tapi itulah yang membuat hidup semakin berwarna ..cihuyyyyy .Bon week end !

Chinta