Sabtu, 12 Maret 2011

Gilang dan Kuda

Tidak banyak yang menarik dari kehidupan di St. Arnoult, selain saya tidak berkendara sendiri dan rumah tempat kami tinggal sementara dengan orang tua Gareth jauh cukup jauh dari pusat kota. Tapi tinggal di pinggiran ternyata cukup menghibur bagi Gilang. Pertama, Gil sangat suka kuda, kedua, rumah kami sangat akrab dengan lingkungan yang berkaitan dengan hewan yang satu ini,  tetangga yang berbatasan dengan kami, yang pertama adalah peternak kuda untuk polo sport, yang kedua, tipe klasik orang yang sudah tua di Prancis, selain memelihara anjing dan lain-lain, mereka juga senang memelihara kuda, meskipun tidak untuk ditunggangi.


Gilang dan Martine (grandma), on the back of Paseo (horse)



Ibu mertua saya, Martine,  sangat hobi berkuda. Paling tidak lima hari dalam seminggu, ia menunggang atau merawat kuda. Saya dan Gilang tidak banyak kegiatan, ajdi biasanya kami  ikut ke stable. Kalau cuaca tdk terlalu dingin, selain berjalan2 di sekitar, saya dan Gilang  mengamati kuda-kuda peliharaan orang lain, para penunggang kuda, dan sesekali Gilang bisa menunggang kuda neneknya (mamy).

Kuda-kuda pada musim dingin

Lihat wajahnya yang sangat senang!


Kalau saya sendiri tidak terlalu tertarik dengan kuda. Oleh karena itu, sampai sekarang saya belum pernah mencoba menunggang kuda. Saya lebih tertarik kepada lingkungan dan orang-orang yang hidup dari hobi ini. Seperti para pelatih berkuda (ehem!), orang-orang yang bekerja di lingkungan stable dan tentu saja, saya bisa sedikit berprasangka tentang kepribadian dan status sosial seseorang dari penampilannya berkuda. Namun dari semua itu, suati hari saya memutuskan untuk lebih produktif dan mengasah kemampuan jurnalistik saya.

Beberapa waktu yang lalu saya mencoba membuat liputan tentang pekerjaan membuat sepatu kuda, yang mana membuat saya berpikir bagaimana orang di Indonesia melakukannya. Terus terang, ini pekerjaan keahlian, sangat menarik dan saya merasa beruntung berkesempatan mengamati, bertanya beberapa hal dan membuat dokumentasi.

Seorang Pandai Besi, khusus Pembuat Sepatu Kuda, sedang mempersiapkan tapal kuda yang baru
Dimulai dari proses, mengukur, menyocokkan, merapihkan, dan lebih tepatnya seperti Pedicure!
Seorang pandai besi pembuat sepatu kuda disebut fér à cheval. Dibutuhkan sekolah khusus dengan jenjang pendidikan 4 tahun (sarjana bo!) agar bisa menjadi pembuat sepatu kuda BERSERTIFIKAT. Tidak termasuk waktu magang yang harus ditempuh. Mau jadi tenaga ahli geto lochhhh emang di Indonesiaaaa..:P

Sepatu kuda menjadi penting ketika kuda digunakan untuk olahraga seperti polo, atau ditunggangi secara rutin. Kuda perlu mengganti sepatu kurang lebih tiga bulan sekali, dimana pada saat musim panas bisa hingga enam minggu sekali, dan biaya penggantian sepatu ini sekitar enam puluh hingga tujuh puluh euro (sekitar tujuh ratus ribu rupiah) termasuk ongkos pedicure-nya .Ayo, coba dirupiahin!!!



Mama dan Gilang mejeng dikit ahh...


Begitulah kehidupan kami belakangan ini, hari ini sepertinya jauh lebih baik dari hari-hari kemarin. Semakin hari semakin berbeda saya melihat hal-hal disekitar saya. Menikmati hidup apa adanya, kok tidak semudah yang sy pikir, tapi itulah yang membuat hidup semakin berwarna ..cihuyyyyy .Bon week end !

Chinta

2 komentar:

  1. bagus bgt ta,kehidupan org2 di stable.
    kl dimalioboro spatu dipasang ke kakinya dengan dipaku ke kukunya.mknya pas jalan di aspal bunyi nyaring krn besi ketemu aspal. Tp bukannya kl pk besi pas jalan lama akan jd panas ta?knp ga pk karet/sol?

    BalasHapus
  2. kalo pake karet atau sol cepet leleh dan ga stabil dong jalannya

    BalasHapus