Senin, 16 Januari 2012

Menyusuri kota tua Chartres, Journey 1

Hi,



Ternyata post saya tentang Chartres masih minim sekali ya? Mungkin wajar juga, karena baru summer kemarin kami pindah kemari, dan hingga hari ini, saya belum merasa settling down. Setelah pindah bulan Juli kemarin, banyak yang harus disiapkan seperti sekolah Gilang, kursus saya, bahkan Gary (suami) pun baru saja pindah kantor. Kondisi rumah kami pun masih berantakan (yipiiiieee), dan kadang masih berbau cat. Dinding masih polos putih, dan gambar2 dan foto yang seharusnya dipajang masih tergeletak.


One day i said, my life in Chartres is just about to start, dan saya sudah berencana lain. Mungkin memang saya termasuk tipe yang tidak sabaran dan selalu terburu-buru mengambil keputusan, di satu sisi, seseorang di dalam diri saya berkata, "Just do it" ! Begitulah teman-teman, saya berencana untuk pulang ke tanah air, mencari nafkah dan menikmati hidup di tanah air. Saya tidak putus asa untuk kembali kesini, toh Chartres adalah rumah kedua saya, tapi entah mengapa, hasrat saya begitu menggebu untuk kembali menjadi Chinta yang idealis!


Jadi menikmati beberapa waktu tersisa, hingga akhirnya hari "H " tiba jika Yang Diatas mengkhendaki, saya menghabiskan waktu saya sebagai Chartraine (warga kota Chartres) sekaligus turis paruh waktu. Tiap minggu, saya akan membuat rute perjalanan, em, lebih menarik kali kalau disebut penjelajahan kota Chartres, bersama teman saya Feily, author dari website www.discover-chartres.com.


Selain Chartres Cathedral yang sudah pernah saya sebut dan upload berkali2 fotonya di blog sy yang lain dan juga di Facebook, Chartes adalah kota tua yang sangat menawan. Tiada hari tanpa mengagumi Chartres buat saya,  ada perpaduan yang luar biasa antara kehidupan modern dan peninggalan masa lampau, yang terpelihara secara baik. Ini, maaf ,sekali lagi yang membedakan antara konservasi peninggalan sejarah di negara berkembang dan di negara maju. Pergesekan kepentingan ekonomi mungkin yang sering membuat penghargaan terhadap peninggalan sejarah di negara berkembang terbengkalai atau sering pengelolaannya tidak tepat.  Komersialisme objek wisata, untuk konsumsi turis dan pendapatan kota, masih terasa kok di Chartres. Mungkin karena ada unsur budaya dan religiusitas yang kuat, hingga gereja-gereja tua misalnya, masih berdiri kokoh dan berfungsi normal. Tapi di sisi lain, kunjungan saya, ke museum Picassiete misalnya, yang sebenarnya hanyasebuah rumah seorang mantan penjaga kubur yang nyeni. Rumah kecil yang  ia huni,  ia tempeli dengan pecahan2 gelas kaca, keramik dan lain sebagainya yang bisa ditempel,  yang ia kumpulkan setiap hari. Akhirnya bertahun2 kemudian, rumah yang 'diisengin 'pemiliknya itu kemudian menjadi bangunan yang terdiri dari kolose2 luar biasa. Istimewa sekali sih tidak,  namun hasil karya dan kerja kerasnya ini kemudian mendapat perhatian dan penghargaan dari pemerintah lokal, lalu di konservasi untuk menjadi tujuan wisata. Hasilnya, dua turis Indonesia yang berkunjung hari itu dibuat terkagum-kagum. Jadi sebenarnya bicara soal potensi wisata, Indonesia tidak kalah, hanya saja sistem pengelolaanya masih perlu diperbaiki.

Ini dia beberapa foto tentang jalan2 sya di kota tua, dimana perjalanan terhenti pada sebuah gereja tertua yang mana pertama kali dibangun sejak tahun 400, Gereja St Aignan. Nama St Aignan sendiri adalah nama seorang pastur pendiri gereja ini. Dalam perjalanannya, gereja st Aignan juga beberapa kali berubah fungsi antara lain pada masa perang sebagai penjara, rumah sakit dan juga tempat penyimpanan makanan bagi para tentara.

Gereja St Aignan tampak depan 


Tampak samping dari arah parkir


Pintu masuk utama ( biasa banget ya)




Pas masuk yang ada di kepala " Wow", ngeliat dari luar gak nyangka kalo dalamnya cantik sekali, perpaduan warna dinding dan kontur pilarnya itu luar biasa (bukan arsitek jadi ga tau harus comment apa)
Podium samping



Menuju altar
Pipe organ diatas  balkon


 Tangga menuju panggung altar, disampingnya berderet kursi, mungkin untuk misdinar atau koor entah

Langit2 gereja (gambarnya kurang bagus, kalo mau lihat yang lebih jelas bisa lihat di sini)

Altar dan sakristi, semua berwarna emas, mbuh kalo emas beneran

Bilik pengakuan dosa

Patung santo matius

Plakat ucapan terima kasih, di tempel sama yang doanya terkabulkan


Motif pada dinding

Ngintip " pojok pengakuan dosa"


Bunda Marianya ga mau difoto hingga jepretan ketigaa...




Kesan keseluruhan sih ya, gereja kalo tua itu ada perasaan gimananya gitu.Entah mengapa kalau masuk gereja dengan pilar-pilar tinggi lalu fantasi saya berkelana pada sosok2 vampire yang berlompatan di langit-langit gereja (ya ampiyun). Lalu perasaan lain terhadap orgel tua di balkon gereja, seringkali kemudian muncul imajinasi orgel yang bermain sendiri di kala malam. Belum lagi cerita misteri seputar ruangan bawah tanah tempat persembunyian tokoh-tokoh penting di masanya, dan juga, tempat disemayamkannya pastor-pastor yang disucikan masa itu...hummmmhhh, bener loh ada ceritanya. Kok saya jadi semangat yah ngunjungin gereja2 tua lainnya?

Yang pasti, kalau katedral de Chartres  itu megah dan luas, di satu sisi, terlalu turistik jadi kalau buat berdoa, susah khusyuk. Apalagi, sekarang masih renovasi. Nah, dua gereja lain yang sudah saya masuki antara lain Jeanne de Arc dan St PantalĂ©on, sayangnya saya nggak ambil gambar, maklum tujuannya bukan untuk wisata. Jalan-jalan berikutnya pastinya masih di sekitar kota tua. Terus terang, beberapa hal menyangkut sejarah, dan juga pastinya cerita-cerita tentang gereja dan bangunan tua sangat mengundang intuisi saya untuk tahu lebih jauh.

See you next time,

Chinta

6 komentar:

  1. cin,chartres ini deket rumah mertuamu ya? :) tys

    BalasHapus
  2. pintu masuk nya keren mbak berasa di pilem2 jadul :D

    BalasHapus
  3. ah...andaikan di indonesia orang2.... ga pada.... maka ..... (wak)

    BalasHapus
    Balasan
    1. agak ga jelas comment nya tapi tetap terimakasih sudah mampir, andaikan commentnya... maka.....

      Hapus
  4. Fotonya cantik loh! Boleh dipajang di websiteku nggak?

    BalasHapus