Rabu, 12 November 2014

My Jatim Trip :Cerita yang Tertunda, Satu masa di Bukit Cinta

Dibutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya untuk akhirnya bisa menceritakan perjalanan saya ke Bromo dengan emosi yang netral. Ada apa dengan Bromo? Haha, mungkin lebih tepatnya ada apa dengan Chinta?

Mungkin sebuah titik nol. Moment dimana Anda tau harus memulai sesuatu yang baru, namun Anda membutuhkan dorongan yang kuat dan tepat untuk melangkah lebih cepat? Sayangnya, perjalanan kemarin sempat membuat saya stagnant sebelum akhirnya move on. Haha, kok jadi curhat?

Okey. Bromo...sekali seumur hidup, atau jika ingin berkali-kali, Anda harus kesana. Orang-orang datang dari seluruh dunia untuk menyaksikan keindahan Bromo. Pertanyaannya. Kenapa?

Sayangnya jawabannya sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Breathtaking yes, aside from my struggle to watch each second the sun rise between bule's heads and jackets. I enjoyed my Bromo experience. Perjalanan dimulai dari Malang, dengan patas AC yang nyaman dengan membayar sekitar...30rban, saya berangkat ke Probolinggo. Hah hah, perjalanan sekitar 3 jam itu saya habiskan untuk mencari dan lebih tepatnya menawar harga hotel. Hotel-hotel harganya "kompetitif". Berbekal rekomendasi dari Lonely Planet, saya memutuskan untuk booking di Yoshi Guest House.  I dont link this hotel, because It was a pain actually to pay more than 200 thousands for small-with shared-bathrooms outdoor. Belum termasuk tidak bisa tidur karena suara ngorok om-om di kamar sebelah sementara Anda harus bangun dini hari mengejar sunrise, nah, this hotel is okey but if you could find something else, just try.

Kalau mau dengan nyaman ke Bromo ala turis waktu itu, maksudnya nginep di hotel, dan tidak menggunakan transport pribadi, maka 500 ribu rupiah tidak akan cukup. Yang pasti, dua hari cukup. Pastikan misalnya Anda tiba di Probolinggo siang hari lalu istirahat sejenak di hotel untuk kemudian bersiap mengejar sunrise, lalu habiskan waktu di 4 spot Bromo-kawah-penanjakan-pasir berbisik-sabana dan jangan lewatkan ...bukit cinta.

Biarkan foto-foto ini berbicara. Boleh?

The sun about to rise

My breathtaking morning

And my companions

My treasure

My awsome moment on the top of Bukit Cinta//Love hill

I was thinking, to get lost somewhere out there

Best buddies, my bamboo hat, grey scarf and loyal backpack. Now i have lost them all

Remarks of Bromo, man in a horse and jeep

The best Shot

Yah, begitulah, perjalanan pendek saya di Bromo. Dua teman yang saya temui di atas bahkan saya tidak ingat namanya. Kami bertemu ketika menunggu Elf di dekat terminal Purbalingga, lalu memutuskan menginap di hotel yang sama. Seingat saya sich, mereka dari Semarang. APa kabar ya mereka hehehe? Yang pasti, teman-teman seperjalanan mengisi memory berbagi keindahan Bromo.  Di hari kedua setelah puas menjelajah, saya putuskan untuk kembali ke Yogya. Langsung, dari terminal Probolinggo menuju Yogyakarta. My Jatim Trip story saya tutup disini. Banyak cerita yang tidak diceritakan dan biarkan menjadi kenangan saja....Terima kasih sudah sampai disini,


Chinta

Minggu, 22 Juni 2014

Jawa Timur Trip part 2: Mojokerto dan Trowulan

Ya, ya, semua orang bertanya ketika saya bilang " Saya mau ke Mojokerto". Dan tidak banyak pula orang yang tahu tentang Trowulan.

Pada kenyataannya, bagi saya seorang eksplorer, mengunjungi tempat yang tidak terlalu turistik tentunya sangat menguntungkan dari segi kocek dan kenyamanan. Di sisi lain,  sesaat seringkali saya pun berpikir, "Tempat ini baiknya lebih dipromosikan". Dua sisi yang berbeda, namun untuk sebuah peninggalan sejarah atau situs arkeologi, memang sebaiknya pengunjung tidak terlalu banyak sehingga orang yang mengunjungi atauu visitor bisa dengan seksama mengamati dan menikmati situs dan kedua, kelestarian bisa tetap terjada.

Sedikit tentang Trowulan

Trowulan adalah sebuah kecamatan di kota Mojokerto (sekitar 30 km dari Surabaya, mohon dikoreksi jika salah) dimana di kecamatan ini terdapat situs-situs peninggalan  dari Kerajaan Majapahit. Sayangnya hingga saat ini Trowulan masih masuk dalam tentative list dari world heritage UNESCO. Mungkin itu juga sebabnya Trowulan belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia sendiri, apalagi dikunjungi. Untuk mengembangkan sebuah daerah wisata, tentunya diperlukan manajemen dan dana yang besar. Jika dibandingkan dengan Borobudur yang hanya seluas 2500 m2, situs Trowulan sendiri memiliki luas 99km2. Nah, bisa terbayangkan berapa banyak situs purbakala yang kemungkinan besar masih tersembunyi dalam tanah dan yang sudah ada tentu saja, jika situs-situs ini hingga sekarang tidak memungut biaya masuk maka perawatannya pun masih terbatas.

Peta Kec. Trowulan dan titik-titik situs arkeologinya
Trowulan terletak di utara kota Mojokerto, oleh karena itu saya yang dari arah Blitar (selatan) naik kereta ekonomi terlebih dahulu menuju kota Mojokerto. Dengan kereta ekonomi seharga Rp 5000, - dari Blitar saya tiba di Mojokerto dengan menempuh 4 jam perjalanan.
Pengalaman naik kereta ekonomi itu cukup menyenangkan, seandainya saja acnya bisa berfungsi maksimal. Sayangnya panasnya udara mengalahkan ac dan seperti hawa manusia bersumpekkan menambah panasnya perjalanan.

Berangkat pukul 10 pagi, saya tiba di Stasiun Mojokerto sudah hampir pukul 3 sore. Terlambat sudah dan terlalu lelah untuk melanjutkan ke Trowulan. Akhirnya saya dengan becak menuju arah terminal untuk menginap semalam di Hotel Surya Kertajaya. Alasan saya memilih hotel ini adalah karena lokasinya yang hanya bersebrangan dengan terminal Mojokerto dimana saya bisa naik angkot dari sana menuju Trowulan dan kemudian dari sana pula saya akan mengambil transport bus menuju tujuan berikutnya kec. Pacet.

Dengan spare waktu kosong di Mojokerto malam hari, maka malam itu saya putuskan untuk berjalan-jalan dengan becak menuju pusat kota Mojokerto untuk kuliner dan sekedar menikmati ambience kota. In overall kesan saya positif, kotanya sangat maju dan berkembang, mungkin karena sudah sangat dekat dengan Surabaya, juga merupakan jalur menuju kota-kota besar seperti Pasuruan dan Malang.

Besok pagi nya saya kemudian check-out dan langsung menitipkan backpack raksasa saya di resepsionis hotel yang sangat ramah dan helpful ditanyai seputar akses menuju Trowulan. Sesuai petunjuk-petunjuk online yang sudah saya dapatkan sebelumnya, untuk menuju Trowulan kita harus naik angkot menuju Trowulan melalui terminal Mojokerto. Yang menjadi tantangan adalah, meski hotel hanya terletak di seberang jalan terminal bis dan angkutan kota, jalan yang dimaksud adalah sebuah by pass yang berarti sangat luas dan padat dengan kendaraan berat. Namun pastinya tibalah juga saya disana, dan dengan membayar Rp 6000 saya kemudian naik angkot menuju Trowulan dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Baiknya biar tidak bosan, biarkan gambar-gambar ini bercerita tentang Trowulan...
Selamat datang di Situs Majapahit TROWULAN

Ketika turun dari ANgkot, banyak ojek yang menawarkan untuk mengantar perjalanan mengelilingi situs ini, saya menolak, karena pikir saya bisa sewa sepeda. Ternyata... sepeda tidak untuk disewakan....hanya untuk pajangan...damn

Kolam Segaran. konon kolam dengan luas 375 m x125 m ini sebagai tempat rekreasi dan menjamu tamu-tamu kerajaan Majapahit. Fungsi lain yang nyata adalah fungsi sebagai waduk. Saat ini fungsinya masih sama, yaitu untuk rekreasi warga setempat, dimana ketika saya berkunjung tampak beberapa orang sedang memancing bahkan jogging mengitari kolam ini.

Landscape desa Trowulan, masyarakat sebagian besar adalah petani dan pembuat bata. Kesejahteraan bisa dilihat dari kemampuan masyarakat desa memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ketika tiba disana, sepertinya sedang musim panen, dan tampak wajah-wajah bahagia dari petani yangsedang menikmati jerih payah mereka.

Padi yang baru ditanam, warna hijau segar mencerahkan mata, langit biru, ahh indahnya Indonesia!

Mata pencaharian lain penduduk Trowulan adalah membuat bata dengan campuran pasir, tanah dan menggunakan kulit padi untuk membakarnya.

Berdiri diatas tumpukan kulit padi atau gabah

Jatuh cinta pada seekor kambing, eh domba eh wedhus, whatever! Sayang si wedhus ditali, kalau tidak kami sudah saling berpelukan dan berbagi cerita.

Sebelum tiba di pintu masuk Candi Bajang Ratu saya terlebih dahulu "tersangkut" di sebuah toko antik atau rumah Gus Im, seorang paranormal yang beberapa kali mengisi acara Uji Nyali di Trans TV


Di rumah Gus Im, saya banyak mendapat informasi soal koleksi keris dan barang antik yang beliau miliki , lalu mata saya tertangkap pada sebuah tulisan tentang ironi diatas pintu masuk...

Candi Bajang Ratu candi pertama yang saya singgahi  sebelum Candi Tikus. 

Tulisan di taman. Ketika tiba, anda hanya akan melihat loket kecil, dimana anda hanya perlu mengisi buku tamu, lalu memberi sumbangan seiklasnya. Candi-candi di Jatim sebagian besar tidak memungut biaya masuk.
Candi Tikus, dinamai demikian karena konon ketika diemukan pertama kali dipenuhi tikus.
Selanjutnya perjalanan saya lanjutkan dengan ojek seharga 15rb hingga museum Trowulan. Sebelum ke museum saya minta diantar ke Pendopo Majaphit dimana dipercaya disitulah Gajah Mada mengucapkan sumpah Palapa. Disana lalu saya menuju Museum Trowulan dengan koleksi hasil penggalian arkeologi dan benda-benda bersejarah lain seperti prasasti danlain sebagainya. Sangat menarik namun saking menariknya saya sibuk membuat catatan seputar beberapa benda-benda menarik, dan karena ada peringatan dilarang mengambil foto maka saya tidak mengambil foto sama sekali. Sebenarnya saya juga sempat mampir ke Candi Minaj Djinggo dan beberapa situs lain. Sayangnya tidak mungkin saya ceritakan satu persatu. Candi lain yang tidak sempat saya hampiri antara lain adalah Candi Brahu karena letaknya di sisi lain rute saya menelusuri Trowulan waktu itu. Yang saya anjurkan bagi pencinta arkeologi, yaitu sebaiknya menyewa sepeda motor sehingga bisa maksimal mampir ke semua situs dan tidak terlalu lelah. Malam hari sebelum ke Trowulan saya sudah berusaha mencari persewaan atau rental motor sayangnya tidak ketemu.

Secara keseluruhan desa Trowulan sungguh layak untuk dikunjungi. Pengelolaan situs-situs dan kompleks Triwulan cukup baik, sayangnya untuk solo traveller jika anda malas berjalan, atau tidak fit maka Anda akan menghabiskan banyak biaya untuk ojek. Saya sendiri memang niat berjalan, sehubungan dengan waktu seharian yang saya punya dan dua kaki yang sudah saya siapkan sebelumnya. Berjalan menuju situs satu ke lainnya memang melelahkan, apalagi ditambah terpaan terik matahari. Namun kehidupan masyarakat setempat, yang syukurnya cukup sejahtera dilihat dari kondisi rumah dan infrastruktur, sangat menarik untuk diamati. Betapa kaya masyarakat setempat akan potensi alam dan budaya. Hamparan sawah dan perkebunan, lalu situs-situs ini sebenarnya jika dikelola lebih untuk mensejahterakan rakyat, ke depan tentunya sangat prospektif.  Masukan saya untuk pemerintah setempat mungkin sebaiknya disediakan persewaan sepeda. Akses jalan yang rata dan mulus sangat menyenangkan seandainya bisa ditempuh dengan bersepeda.

Kembali dari Trowulan saya kemudian melangkahkan kaki pada sebuah tempat, yaitu desa Pacet yang saya tuju dengan angkot dari terminal Mojokerto langsung sore itu. Ada apa di Pacet? Tunggu ceritanya di post saya berikutnya ya... terima kasih sudah mampir disini,

Chinta

Senin, 05 Mei 2014

Pesona Jawa Timur- My Jatim trip part 1- Blitar

Setelah tidak meninggalkan Jogja cukup lama akhirnya it's time to travel out the reality and get myself back together *cross fingers*

Perjalanan saya kali ini terinspirasi dari dua buah buku yang dipinjamkan seorang sahabat, sebuah kebetulan yang lumayan komprehensif dengan interest saya belakangan ini, yaitu  sastra dengan latar belaang sejarah, lebih spesifik lagi sastra sejarah dengan setting Jawa kuno.

Awalnya agak sulit menentukan titik awal di kota mana saya harus memulai perjalanan saya. Banyak masukan, dan tentu saja, untuk Jawa Timur, banyak sekali objek wisata budaya yang bisa dijelajahi, termasuk yang berkaitan dengan Majapahit.

Yang menjadikan Jawa Timur sebagai daerah atau propinsi ini sangat potensial sebagai kunjungan wisata adalah keseimbangan jenis wisata mulai dari budaya, alam, agraria dan kuliner. Budaya dan Alam yang begitu kaya dan seimbang, meski tidak bisa terlepas dari kehidupan kota dan modernisasi,  Jawa Timur  begitu mempesona.

Sebenarnya kota yang saya kunjungi belum banyak, ibaratnya masih terhenti di tengah jalan. Rencana awal saya akan memulai perjalnan Blitar-Mojokerto-Pacet-Probolinggo-Malang-Lumajang-Jember. Namun dua kota terakhir seperti nya belum berjodoh dengan saya. Keterbatasan waktu dan dana membuat saya harus kembali ke Jogja. Total perjalanan yaitu  kurang lebih 1 minggu. saya mulai tanggal 20 April berangkat dari Yogya ke Blitar dan pulang tanggal 26 April berangkat dari Probolinggo-Yogyakarta.

Dari Yogya ke Blitar saya naik kereta, harga tiket ekonomi AC Malioboro Express adalah Rp 150.000. Menurut saya cukup mehong untuk ukuran kursi berempat hadap-hadapan dan jarak tempuh sekitar 5 jam saja. Sama aja naik TER Chartes-Paris sekitar 14 Euro. Tadinya saya pikir dapat kursi yang berdua-dua jadi lebih nyaman, ternyata tidak. Mungkin ini kesalahan pada saat reservasi. Kebetulan saya membeli dari Alfa Mart, yang mengatakan ini duduk berdua padahal tidak. Saya cek kembali, untuk kelas ekonomi AC sebenarnya bisa membayar seharga Rp 115 ribu sampai Rp 120 ribu, dan untuk eksekutif sudah seharga Rp 150ribu, jadi tiket saya itu....????

Next time menurut saya kalau mau beli tiket langsung ke stasiun saja. Kereta dari Blitar itu berangkat malam, Malioboro Express berangkat jam 10an, Ada juga Malabar dan Argo.Nah diperkirakan sendiri saja mau tiba jam berapa. Kemarin itu saya berangkat jam 10 malam sudah antisipasi tiba di Blitar jam 3 subuh, jadi harus sudah ada hotel untuk naruh backpack super gede dan slonjoran dikit. Nah cukup jarang hotel yang mau nerima check in segitu dan tidak dihitung satu malam.

Hotel Blitar
Saya sudah memperkirakan akan dihitung 1 malam dan memutuskan masuk ke hotel Sri Redjeki. Nah yang agak susah di Blitar itu transport. Adanya becak dan ojek. Saya yang melihat peta waktu itu berpikir hotel tidak terlalu jauh, sekitar 1-2 kilo memutuskan jalan kaki, mumpung jalanan sepi. Akhirnya mengandalkan navigasi seadanya yang mengakibatkan saya keliling kota sedikit sebelum sampai di hotel, pukul 4.30 saya tiba di hotel Sri Redjeki. Hotel tua ini memiliki banyak kamar, dan melihat parkirannya sepertinya sering digunakan supir-supir mobil kanvas untuk menginap. Tidak menarik sama sekali dari luar, lampu lobby bahkan tidak menyala. Tapi sesuai tujuan saya kesana, yaitu YANG PENTING MURAH, saya pun oke oke aja dan mengambil kamar dengan harga Rp 60 ribu per malam. .Ehem, i dont feel like talking about the ugliest room in my life, tapi memperkirakan saya seharian ini akan berada di luar ruangan, saya pun sibuk menghibur diri dan tepat pukul 8 setelah mandi dan sarapan kopi*fasilitas hotel* saya pun cush memulai petualangan saya. Di lobby saya sempatkan ngobrol dengan resepsionis yang ramah soal rencana saya hari ini. Mulai dari dimana saya bisa sewa motor ataupun kendaraan umum. Jawabannya, tidak ada, Blitar hanya punya ojek dan becak. Lalu saya pun bertanya jarak tujuan pertama saya yaitu Museum Bung Karno. Karena hanya sekitar 1-2 kilometer, saya pun memutuskan untuk...Jalan Kaki. Dan untuk transport ke Candi Penataran, saya putuskan menunggu wangsit setelah saya sembayang di makam Bung Karno.

Kompleks makam dan Museum Bung Karno

Museum Bung Karno , view dari Makam
Kurang lebih 30-40 menit berjalan kaki santai, lurus saja dari hotel, saya pun tiba di Kompleks makam dan museum Bung Karno. Suasana turistik sangat terasa di sepanjang jalan banyak kios menjual suvenir berbau Bung Karno. Tiba di area parkir, sekelompok marching band anak-anak keluar dari kompleks museum. Wah berasa disambut *geer*. Saya pun dikerubutin ibu-ibu yang menjual bunga untuk ditabur di makam bung Karno *lebay padahal yang datengin cuma 3 orang ibu-ibu*. Satu kantong plastik berisi kembang dijual seharga Rp 5000. Masuk ke museum dan kompleks makam pun tidak dipungut biaya. Masuk dari arah kota, kita akan dihadirkan dengan lay-out kompleks design arsitektur yang modern. Sophisticated dengan patung besar Soekarno sedang duduk dan juga quotes dari Orasi beliau di setiap tiang. Saya bingung harus mulai dari mana.

Akhirnya saya putuskan masuk ke museum, sebenarnya buat ngadem.Setelah berjalan kaki dan udara memang cukup panas hari itu, saya putuskan to chill out sebelum perjalanan saya yang masih akan sangat panjang hari ini.

Standard museum tokoh nasional, display objek kaku dan tidak terlalu banyak benda bersejarah yang berhubungan dengan bung Karno. Lebih banyak foto, lukisan dan lebih informatif tentang sejarah dan biografi Bung Karno. Satu hal yang menarik menurut saya yaitu ini;

Apakah sekarang Indonesia sudah bebas buta huruf?
Pertanyaan itu muncul di kepala saya. Begitu banyak kata-kata beliau yang jika Anda baca, membuat semangat menjadi berkobar. Sayangnya, sepertinya tidak banyak anak muda yang memiliki desire terhadap sejarah perjuangan dan peninggalan budaya. Satu hal tentang Bung Karno, beliau memiliki semangat dan karisma luar biasa yang yang bisa menjadi inspirasi untuk membuat suatu perubahan. Beliau juga adalah seorang pecinta kesenian. Sejarah adalah sejarah, past is past apa yang penting sekarang. Sayangnya mood saya cukup apatis tentang politik, jadi saya cukup menghela nafas panjang dan melanjutkan ke makam Bung Karno untuk menabur bunga.

Candi Penataran

Candi ini terletak 10 km ke utara Blitar. Dari Makam Bung Karno lurus-lurus saja ke arah utara. Nah permasalahannya, tidak ada angkot atau bus umum menuju kesana. Jadi dari kompleks makam, jika Anda bertanya orang di sekeliling Anda maka mereka akan menganjurkan Anda naik ojek dengan biaya sekitar 20 ribu, satu kali jalan dan 40-50 ribu pulang pergi. Saya yang beruntung hari itu duduk-duduk di penjual es kelapa berhasil meminjam sebuah motor seharga 80 ribu per hari, tanpa batasan waktu. Saya tidak tahu seperti apa kompleks Candi Penataran dan berapa lama waktu yang akan saya habiskan disana. Jadi pilihan terbaik memang sebaiknya naik motor sendiri, sambil mampir-mampir kali aja ada yang menarik dan saya tidak menyesal dengan pilihan saya ini.

Akhirnya, bermodal nekad, dan tanpa meninggalkan ktp saya pun meminjam eh menyewa motor seorang tukang becak. Perjalanan menuju Candi Penataran so beautiful guys, dengan hamparan sawah dan nuansa pedesaan, it was a nice ride. 30 menit kemudian saya tiba di Candi Penataran, hanya mengikuti penunjuk jalan dan akhirnya bisa parkir di halaman penduduk, yang sepertinya memang untuk parkir. Siang itu cerah, tidak terik menyengat. Masuk kompleks candi yang cukup luas ini tidak dikenai biaya masuk, cukup menuliskan nama dan asal saja, sepertinya untuk data saja. Saya juga tidak membeli buku, hanya bermodal refrensi hasil google di internet. Yang jelas, candi ini dibangun dan digunakan sebagai tempat sembayang atau pemujaan di Jaman Kerajaan Majapahit, sekitar tahun 1300an Masehi. menurut beberapa situs sejarah, disinilah Patih Gajah Mada membuat janji atau sumpah Palapa.

Bentuk Candi Penataran

Bentuk Candi ini mirip dengan candi-candi Hindu lain di Indonesia. Patung-patung dewa dan binatang perlambang Hindu pun sangat jelas. Arca dan selubung tiang pun berciri khas Hindu. Sebagai awam, bentuk Candi dan lingkungannya sangat menarik dan asri. Saya akan coba menggambarkan pengalaman saya mengunjungi candi sebagai awam. kompleks Candi terbagi menjadi tiga bagian; setelah pintu masuk ada taman dan teras atau pendopo terbuka. Bagian tengah yaitu Candi Utama, diapit dua arca, dan bagian belakang teras bertingkat dengan pemandangan menuju kebun, gunung dan persawahan.

Teras depan sebelum menuju Candi Induk, sekelilingnya penuh dengan relief cerita


wide shoot candi tengah, dimana ada ruangan di dalamnya , di kanan dan kirinya ada diapit arca.


Teras belakang, a path to an amazing view.
Jika harus berbicara detail tentang Candi ini sepertinya postingan kali ini tidak akan pernah selesai. Beberapa bagian candi detailnya sangat menarik, emnyangkut relief dan arca. But here i can share you my fave shots of Candi Panataran:

view kompleks candi dari Candi Utama dengan teras atas


landscapae dari atas candi
Di atas candi Penataran, ada teras luas, yang mana viewnya very relaxing. Awan yang cerah, teman yang sempurna menyengarkan mata. Saya tidur siang sebentar di atas sana, dan tidak takut hitam.


Perjalanan menyusuri kota Blitar belum selesai, tapi misi ke Penataran is checked! See you soon ...

Chinta