Minggu, 22 Juni 2014

Jawa Timur Trip part 2: Mojokerto dan Trowulan

Ya, ya, semua orang bertanya ketika saya bilang " Saya mau ke Mojokerto". Dan tidak banyak pula orang yang tahu tentang Trowulan.

Pada kenyataannya, bagi saya seorang eksplorer, mengunjungi tempat yang tidak terlalu turistik tentunya sangat menguntungkan dari segi kocek dan kenyamanan. Di sisi lain,  sesaat seringkali saya pun berpikir, "Tempat ini baiknya lebih dipromosikan". Dua sisi yang berbeda, namun untuk sebuah peninggalan sejarah atau situs arkeologi, memang sebaiknya pengunjung tidak terlalu banyak sehingga orang yang mengunjungi atauu visitor bisa dengan seksama mengamati dan menikmati situs dan kedua, kelestarian bisa tetap terjada.

Sedikit tentang Trowulan

Trowulan adalah sebuah kecamatan di kota Mojokerto (sekitar 30 km dari Surabaya, mohon dikoreksi jika salah) dimana di kecamatan ini terdapat situs-situs peninggalan  dari Kerajaan Majapahit. Sayangnya hingga saat ini Trowulan masih masuk dalam tentative list dari world heritage UNESCO. Mungkin itu juga sebabnya Trowulan belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia sendiri, apalagi dikunjungi. Untuk mengembangkan sebuah daerah wisata, tentunya diperlukan manajemen dan dana yang besar. Jika dibandingkan dengan Borobudur yang hanya seluas 2500 m2, situs Trowulan sendiri memiliki luas 99km2. Nah, bisa terbayangkan berapa banyak situs purbakala yang kemungkinan besar masih tersembunyi dalam tanah dan yang sudah ada tentu saja, jika situs-situs ini hingga sekarang tidak memungut biaya masuk maka perawatannya pun masih terbatas.

Peta Kec. Trowulan dan titik-titik situs arkeologinya
Trowulan terletak di utara kota Mojokerto, oleh karena itu saya yang dari arah Blitar (selatan) naik kereta ekonomi terlebih dahulu menuju kota Mojokerto. Dengan kereta ekonomi seharga Rp 5000, - dari Blitar saya tiba di Mojokerto dengan menempuh 4 jam perjalanan.
Pengalaman naik kereta ekonomi itu cukup menyenangkan, seandainya saja acnya bisa berfungsi maksimal. Sayangnya panasnya udara mengalahkan ac dan seperti hawa manusia bersumpekkan menambah panasnya perjalanan.

Berangkat pukul 10 pagi, saya tiba di Stasiun Mojokerto sudah hampir pukul 3 sore. Terlambat sudah dan terlalu lelah untuk melanjutkan ke Trowulan. Akhirnya saya dengan becak menuju arah terminal untuk menginap semalam di Hotel Surya Kertajaya. Alasan saya memilih hotel ini adalah karena lokasinya yang hanya bersebrangan dengan terminal Mojokerto dimana saya bisa naik angkot dari sana menuju Trowulan dan kemudian dari sana pula saya akan mengambil transport bus menuju tujuan berikutnya kec. Pacet.

Dengan spare waktu kosong di Mojokerto malam hari, maka malam itu saya putuskan untuk berjalan-jalan dengan becak menuju pusat kota Mojokerto untuk kuliner dan sekedar menikmati ambience kota. In overall kesan saya positif, kotanya sangat maju dan berkembang, mungkin karena sudah sangat dekat dengan Surabaya, juga merupakan jalur menuju kota-kota besar seperti Pasuruan dan Malang.

Besok pagi nya saya kemudian check-out dan langsung menitipkan backpack raksasa saya di resepsionis hotel yang sangat ramah dan helpful ditanyai seputar akses menuju Trowulan. Sesuai petunjuk-petunjuk online yang sudah saya dapatkan sebelumnya, untuk menuju Trowulan kita harus naik angkot menuju Trowulan melalui terminal Mojokerto. Yang menjadi tantangan adalah, meski hotel hanya terletak di seberang jalan terminal bis dan angkutan kota, jalan yang dimaksud adalah sebuah by pass yang berarti sangat luas dan padat dengan kendaraan berat. Namun pastinya tibalah juga saya disana, dan dengan membayar Rp 6000 saya kemudian naik angkot menuju Trowulan dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Baiknya biar tidak bosan, biarkan gambar-gambar ini bercerita tentang Trowulan...
Selamat datang di Situs Majapahit TROWULAN

Ketika turun dari ANgkot, banyak ojek yang menawarkan untuk mengantar perjalanan mengelilingi situs ini, saya menolak, karena pikir saya bisa sewa sepeda. Ternyata... sepeda tidak untuk disewakan....hanya untuk pajangan...damn

Kolam Segaran. konon kolam dengan luas 375 m x125 m ini sebagai tempat rekreasi dan menjamu tamu-tamu kerajaan Majapahit. Fungsi lain yang nyata adalah fungsi sebagai waduk. Saat ini fungsinya masih sama, yaitu untuk rekreasi warga setempat, dimana ketika saya berkunjung tampak beberapa orang sedang memancing bahkan jogging mengitari kolam ini.

Landscape desa Trowulan, masyarakat sebagian besar adalah petani dan pembuat bata. Kesejahteraan bisa dilihat dari kemampuan masyarakat desa memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ketika tiba disana, sepertinya sedang musim panen, dan tampak wajah-wajah bahagia dari petani yangsedang menikmati jerih payah mereka.

Padi yang baru ditanam, warna hijau segar mencerahkan mata, langit biru, ahh indahnya Indonesia!

Mata pencaharian lain penduduk Trowulan adalah membuat bata dengan campuran pasir, tanah dan menggunakan kulit padi untuk membakarnya.

Berdiri diatas tumpukan kulit padi atau gabah

Jatuh cinta pada seekor kambing, eh domba eh wedhus, whatever! Sayang si wedhus ditali, kalau tidak kami sudah saling berpelukan dan berbagi cerita.

Sebelum tiba di pintu masuk Candi Bajang Ratu saya terlebih dahulu "tersangkut" di sebuah toko antik atau rumah Gus Im, seorang paranormal yang beberapa kali mengisi acara Uji Nyali di Trans TV


Di rumah Gus Im, saya banyak mendapat informasi soal koleksi keris dan barang antik yang beliau miliki , lalu mata saya tertangkap pada sebuah tulisan tentang ironi diatas pintu masuk...

Candi Bajang Ratu candi pertama yang saya singgahi  sebelum Candi Tikus. 

Tulisan di taman. Ketika tiba, anda hanya akan melihat loket kecil, dimana anda hanya perlu mengisi buku tamu, lalu memberi sumbangan seiklasnya. Candi-candi di Jatim sebagian besar tidak memungut biaya masuk.
Candi Tikus, dinamai demikian karena konon ketika diemukan pertama kali dipenuhi tikus.
Selanjutnya perjalanan saya lanjutkan dengan ojek seharga 15rb hingga museum Trowulan. Sebelum ke museum saya minta diantar ke Pendopo Majaphit dimana dipercaya disitulah Gajah Mada mengucapkan sumpah Palapa. Disana lalu saya menuju Museum Trowulan dengan koleksi hasil penggalian arkeologi dan benda-benda bersejarah lain seperti prasasti danlain sebagainya. Sangat menarik namun saking menariknya saya sibuk membuat catatan seputar beberapa benda-benda menarik, dan karena ada peringatan dilarang mengambil foto maka saya tidak mengambil foto sama sekali. Sebenarnya saya juga sempat mampir ke Candi Minaj Djinggo dan beberapa situs lain. Sayangnya tidak mungkin saya ceritakan satu persatu. Candi lain yang tidak sempat saya hampiri antara lain adalah Candi Brahu karena letaknya di sisi lain rute saya menelusuri Trowulan waktu itu. Yang saya anjurkan bagi pencinta arkeologi, yaitu sebaiknya menyewa sepeda motor sehingga bisa maksimal mampir ke semua situs dan tidak terlalu lelah. Malam hari sebelum ke Trowulan saya sudah berusaha mencari persewaan atau rental motor sayangnya tidak ketemu.

Secara keseluruhan desa Trowulan sungguh layak untuk dikunjungi. Pengelolaan situs-situs dan kompleks Triwulan cukup baik, sayangnya untuk solo traveller jika anda malas berjalan, atau tidak fit maka Anda akan menghabiskan banyak biaya untuk ojek. Saya sendiri memang niat berjalan, sehubungan dengan waktu seharian yang saya punya dan dua kaki yang sudah saya siapkan sebelumnya. Berjalan menuju situs satu ke lainnya memang melelahkan, apalagi ditambah terpaan terik matahari. Namun kehidupan masyarakat setempat, yang syukurnya cukup sejahtera dilihat dari kondisi rumah dan infrastruktur, sangat menarik untuk diamati. Betapa kaya masyarakat setempat akan potensi alam dan budaya. Hamparan sawah dan perkebunan, lalu situs-situs ini sebenarnya jika dikelola lebih untuk mensejahterakan rakyat, ke depan tentunya sangat prospektif.  Masukan saya untuk pemerintah setempat mungkin sebaiknya disediakan persewaan sepeda. Akses jalan yang rata dan mulus sangat menyenangkan seandainya bisa ditempuh dengan bersepeda.

Kembali dari Trowulan saya kemudian melangkahkan kaki pada sebuah tempat, yaitu desa Pacet yang saya tuju dengan angkot dari terminal Mojokerto langsung sore itu. Ada apa di Pacet? Tunggu ceritanya di post saya berikutnya ya... terima kasih sudah mampir disini,

Chinta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar