Jumat, 20 April 2012

Menyusuri Chartres kota tua Journey 2: destination Eglise st.Pierre

Salut,

Hari ini saya akan update seputar Chartres. Post ini adalah sambungan dari posting sebelumnya Menyusuri kota tua Chartres Journey 1 . Perjalanan saya menyusuri kota tua hari ini ditemani oleh mama, yang baru saja tiba di Chartres sebelum hari Paskah kemarin. Seminggu sebelum pekan paskah, cuaca musim semi yang saya agung-agungkan berubah drastis, hujan, angin dan dingin. Too bad for my mum who was expecting to enjoy the most of spring in Chartres. Tapi tidak apa, air hujan dibutuhkan pepohonan dan bunga-bunga musim semi yang baru saja ditanam. Siang itu saya putuskan mengajak  mama menyusuri kota tua, mengunjungi gereja tua lalu gereja st. Pierre, st Aignan dan mengamati gaya arsitektur mideval kota tua Chartres.

Tujuan utama adalah mengunjungi st.Pierre, ya, saya akui, saya adalah pemandu wisata yang sangat egois, dimana antusiasme saya melebihi turis lebih pada objek wisata yang sebenarnya belum pernah saya kunjungi. Jadilah hari itu kami mengunjungi st. Pierre, gereja tua yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, hohohoho....
Gereja st Pierre ini menggemaskan, karena fasadnya dari jauh sudah terlihat begitu menggoda, namun begitu tiba di hadapannya sulit sekali menggambil foto gereja ini secara keseluruhan. Gemes!!!!



I hve to admit, that i am dying for a new camera, but my curiosities won most of the time, that i had to whatever i can, taking a picture at my most with whatever weapon i got. Gereja St Pierre ini, adalah salahsatu monumen bersejarah, konon dibangun sejak abad ke- 7 (tahun 700), lalu pernah dibakar dan dihancurkan pada tahun 800an, kemudian terus menerus dibangun hingga jendelanya diselesaikan pada tahun 1400. Menurut sumber-sumber yang bisa dipercaya, salah satunya Church of Chartres bentuk dan penyelesaian gereja dengan gaya gothik ini pada akhirnya semakin menyerupai katedral (de Chartres), yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari gereja ini. Di gereja ini pula ditemukan makam-makam para uskup masa itu. Tepat disebelah gereja ini, terdapat sebuah sekolah menengah atas (lycee)paling prestisius di kota Chartres, Lycee Marceau.

Ayo susuri isi gereja St Pierre bersama saya...

Pintu utama, dua lapis, khas gereja mideval, dengan turis pendamping saya mejeng didepannya

Bagian inti gereja, altar, dan langit2 yang tampaknya mulai mengelupas, sehingga harus diberi jaring

Lalu dari pintu masuk sisi kanan terdapat patung st Theresia (st thérése), sebuah salib besar, dan seperti tutup peti atau tomb dengan pahatan salib diatasnya, saya berpikir, what de maksudnya neh? creepy...


Patung yang seperti sudah sangat tua, dari paus pertama
Sebuah pojok arkeologi, dimana ditemukan kumpulan makam, sayangnya kok foto galiannya gak jadi (klenik ini), padahal cahayanya cukup

Pada pojok devosi untuk bunda Maria, terdapat pasangan lantai membentuk peti seukuran manusia bule dengan ukiran gambar seorang martir, dugaan saya tepat dibawahnya dimakamkan seorang bishop atau orang penting gereja

Patung bunda Maria yang sudah sangat tua, dengan sebuah meja tua di depannya, tanpa bunga (tanpaknya sepi kunjungan), tanpa tempat lilin, dengan taplak yang sangat tua, hummm, nice



 Kunjungan ke gereja st Pierre ini berkesan, bagaimana tidak, gereja yang hanya dibuka mulai jam 2 siang ini hari itu hanya berisikan dua turis canggung. Kenapa canggung? Karena pertama masuk langsung belok kanan, dan berdoa di depan patung st Theresia yang kami kira adalah patung bunda Maria, hohohoho.....sadarnya pun ketika saya selesai, dan mama belum, saya lalu melotot membaca plakat terima kasih (yang biasanya dipaku di tembok), dengan tulisan "Merci st Thérese". Jadilah saya menelan ludah, oh no, lalu menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu mama. Lalu, ketika sedang celingak celinguk di gereja yang sepi itu, tiba-tiba, di kanan saya menyala-lah lampu pada sebuah area yang diberi pembatas, berisikan galian makam-makam yang mana memberi sensasi horor, dimana saya sempat meloncat sedikit karena kaget. Akhirnya setelah memberi tahu mama bahwa tadi bukan patung bunda Maria, mama yang kemudian dengan santainya lanjut doa di patung Maria, saya yang sudah il-feel terlanjur salah curhat, sibuk motret-motret dan memutuskan mengambil foto sebuah kaca patri gambar bunda Maria yang sangat cantik, ini dia hasilnya:

Akhir dari kunjungan di St Pierre, same objects, different angle...

Catatan saya dari kunjungan-kunjungan saya di gereja tua Chartres, adalah, pentingnya sosok st Theresia yang mana foto dan patungnya terdapat hampir di semua gereja, dengan jumlah pendoa yang bersaing dengan bunda Maria. Akhirnya teka-teki itu terjawab sudah, dimana teringatlah saya pada sebuah adegan di film La Môme, kisah penyanyi Edith Piaf, dimana waktu kecil ia pernah buta karena sakit mata, lalu dibawa pengasuhnya untuk ziarah ke makam st Theresia di Normandie (bagian utara Perancis), lalu Edith kecil pun sembuh dari kebutaanya. Siapakah santa Theresia yang masyhur itu?

Kisah tentang santa Teresia bisa teman cari sendiri di internet, namun secara khusus saya akan membahasnya setelah perjalanan pilgrimage saya dua pekan kedepan.

Kembali ke kunjungan bersama mama di kota tua: dari st Pierre kami pun lanjut berjalan ke gereja St. Aignan yang saya bahas pada "Menyusuri kota tua chartres 1", lalu  penyusuran saya dan mama kemudian berlanjut pada bangunan dan rumah-rumah tua mideval dengan gaya arsitektur yang khas Perancis. Pembahasannya? Tunggu posting berikutnya ya? Sampai nanti, 

Chinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar