Selasa, 15 Februari 2011

Review film Amelie Poulain (Le Fabuleux Destin d'Amélie Poulain)


 Hi, saya mau share sedikit tentang sebuah film yang menginspirasi saya. Ada banyak perbedaan antara film Amerika dan Perancis terlepas dari yang mana yang lebih baik dan yang mana yang lebih saya sukai. Perbedaan yang mencolok yaitu, ide cerita. Film Perancis populer sebagian besar bertemakan keluarga dan kisah percintaan. Basicnya adalah drama, dengan ide cerita sederhana dan sangat realistis, tentang kisah hidup seseorang dan lika-likunya.  Dalam film Hollywood, kisah hidup seseorang diceritakan seringkali tidak real, hiperbolik dan heroik. Perbedaan lain adalah dari segi cinematografi, setting, yang mana kedua negara memiliki style berbeda yang kalau dibahas bisa jadi skripsi.




Review film kali ini akan saya buat sederhana, lebih dari hasil interpetasi dan bagian-bagian dari film ini  yang menurut saya menarik. Film ini dikemas dengan gaya penceritaan narasi, ada narator (seorang pria) yang menceritakan kehidupan si Amelie yang tumbuh berkembang menjadi pribadi unik, karena masa lalu dan latar belakang keluarganya.

Si kecil Amelie dan imajinasinya, gambar dari Google image

Amelie kecil memiliki orang tua yang kaku dan ignorat. Amelie tidak berkesempatan bergaul karena ia harus bersekolah di rumah, dengan ibunya bertindak sebagai guru. Ayahnya yang seorang dokter tidak banyak menghabiskan waktu dengannya, sehingga seringkali Amelie hanya bermain dengan imajinasinya tentang hal-hal di sekitarnya, dan ia tumbuh menjadi anak yang pemalu.

Bagian yang tragis namun dikemas secara komedi adalah meninggalnya ibu Amelie karena ketiban oleh seorang turis yang melompat bunuh diri dari atap gereja. Sejak saat itu, hidup Amelie semakin terisolasi dibawah asuhan ayahnya yang ignorant. Bagian yang menurut saya menarik adalah pristiwa-peristiwa atau scene yang dipersingkat dan dipercepat diceritakan oleh narator, tentang kehidupan Amelie setelah kemudian tumbuh remaja, hingga akhirnya ia hidup sendiri di sebuah apartemen dengan lingkungan yang unik. Seperti film Perancis pada umumnya, tema seks dan visualisasinya juga nyempil sebagai komedi di film ini. Tidak vulgar menurut saya, karena begitulah cara pandang dan budaya Perancis tentang seksualitas.


Amelie dan ekpresinya tentang seks


Pengembangan karakter Amelie dan tokoh-tokoh pendukung di dalam film ini menjadikan cerita Amelie secara keseluruhan adalah komedi, humanis dan berakhir romantis, dimana setelah bermain kucing-kucingan dengan seorang pria yang ditaksirnya, Amelie akhirnya berhasil keluar dari keterbelengguan imajinasi, dan membuka diri pada cinta seorang lelaki unik, yang juga ternyata berlatar belakang tidak biasa.

Amelie dan proyek kucing2annya dengan pria yang ditaksirnya
Sebuah Happy Ending, Amelie berhasil mengungkapkan isi hatinya pada pria yang diikutinya selama ini



Berbagai misteri dan teka-teki, romansa orang lain berhasil dipecahkan oleh Amelie, secara diam-diam. Dibalik sikap diam dan pemalu, Amelie adalah seorang gadis dengan hati emas yang selalu mau membantu orang lain, meskipun itu hanyalah seorang buta di tepi jalan yang tak dikenalnya.

Ijinkanlah saya menarik cerita ini kedalam sebuah interpetasi dan opini tentang parenting. Banyak hal yang bisa dipelajari atau diambil hikmahnya setelah menonton film ini. Sebagai seorang ibu muda, satu hal yang banyak menyita perhatian saya adalah soal pola asuh. Karena tidak berpengalaman, tentunya saya masih mencari-cari pola atau style yang tepat untuk anak saya. Berusaha untuk simple dibanding ideal, karena sebagai ibu pemula, saya masih merasa banyak kekurangan.

Meskipun dibesarkan oleh orang tua yang strict dan ignorant, Amelie menjadi pribadi yang unik namun sangat  peduli dengan orang lain. Bisa disimpulkan bahwa, pembentukan karakter oleh orang tua dan lingkungannya justru menjadikan pribadi yang kontra pada Amelie. Ia sangat peka dan perhatian terhadap kebutuhan orang lain.

Sebagai contoh konkret yang saya alami sendiri,suami dan saya dibesarkan dengan pola yang sangat berbeda, menjadikan kami memiliki karakter yang berbeda. Lalu dalam mendidik Gilang, kami lebih cenderung mengkonta kan cara mendidik orang tua kami ketika mendidik Gilang dibanding merepetisinya. Lebih tepatnya lagi, kami saling menegosiasikan pola asuh terhadap Gilang, karena di beberapa kasus, saya dan suami, mengkritik cara kami dibesarkan.

Sebuah ilustrasi dari google image, seorang anak lelaki dan ketidaknyamanannya


Seperti suami saya yang sering dididik dengan keras dalam berbagai hal, menjadikannya pribadi yang sangat cuek bahkan tidak sensitif. terhadap Gilang pun demikian, ia tidak mau memaksakan apa pun juga, karena masa kecilnya sering dipaksa. Saya sebaliknya, orang tua yang moderat, justru membuat saya menjadi sangat liberal dan cenderung loosing orientation di masa dewasa saya. Terhadap Gilang, saya pun sering berusaha keras karena tidak mau ia menjadi pribadi yang sama seperti saya.


Thus, dalam situasi yang tidak ideal, tragis yang konyol, begitulah AMELIE dibesarkan, dia masih bisa menjadi pribadi yang menyenangkan, baik hati dan menabur cinta ke banyak orang. Mudah-mudahan, dengan cara apapun Gilang dibesarkan, dan seberapa kerasnya pun lingkungan membentuknya, ia tetap akan menjadi pribadi yang menyenangkan dan dicintai banyak orang. AMin?  Menutup cuap cuap saya hari ini, ijinkanlah saya mengutip sebuah narasi dari film ini, " then she breaths deeply, life is simpe and clear " Selesai




chinta

referensi tambahan buat film ini:
http://en.wikipedia.org/wiki/Am%C3%A9lie

Foto2 diambil dari google image dengan sumber yangbervariasi

http://www.youtube.com/results?search_query=amelie+poulain&aq=0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar