Jumat, 08 April 2011

Belajar dari cara si kecil melihat dunia.........

Seringkali saya ingin  menjadi kertas putih, yang siap ditulisi dan diwarnai dengan apa saja..seringkali saya ingin kembali menjadi anak kecil, yang polos, yang selalu siap menyerap apa saja yang ada disekitarnya. Harus saya akui, kemampuan adaptasi Gilang lebih bagus daripada saya. Caranya melihat sesuatu dengan excitement, menghargai hal2 kecil dan mudah sekali membuatnya senang. Dengan cepat dia bisa mengucapkan kata2 dalam bahasa Perancis seperti merci (terima kasih) , bahkan merci beaucoup (terima kasih banyak), bon appetit (selamat makan), bon nuit (selamat tidur), dan lain-lain. Dengan cepat dia menyelesaikan toilet trainingnya, dan sekarang dia bahkan maunya pipis sendiri. Saya yang repot karena celananya harus sering ganti karena buka celananya belum benar jadi sering basah. Gilang juga sangat suka keju, dan dia sudah sangat terbiasa duduk manis makan di meja dengan sendok dan garpu. Sedangkan saya, rasanya baru minggu kemarin saya bisa menikmati keju, dan tentunya dengan sangat banyak red wine (hehhe, alasan bgt ya???).  Bahasa Perancis saya? Yang pasti ada perkembangan heheh, paling tidak, ini menurut guru bahasa Perancis saya dan guru Gilang di Halte Garderie (daycare).

Jadi begitulah kesibukan saya dan Gilang belakangan ini. Untuk mempermudah dan mempercepat adaptasi, setelah kami tiba di Perancis bulan Desember kemarin, saya dan Gilang menyibukkan diri dengan bersosialisasi. Gilang mendaftar dan diterima di day care center dimana disini disebut Halte Garderie, dan saya mendaftar dan bergabung dengan kursus bahasa Perancis di Centre Culturel Rambouillet. Proses Gilang masuk ke Halte Garderie tidak mudah, pertama, beberapa persyaratan umum harus dipenuhi. Yang pertama dan utama, Gilang harus dipastikan sehat dan komplit vaksinnya. Yang pasti, vaksin di Indonesia dan di Perancis sedikit berbeda, rata2 yang vaksin wajib sama, seperti Polio, HIb , DPT, BCG, namun ada beberapa vaksin yang blm sempat Gilang dapatkan karena sebelum berangkat dia batuk selama 2 bulan dan tidak begitu sehat. Setibanya di Perancis pun Gilang tidak bisa langsung melengkapi vaksinnya, karena dia masih batuk. Setelah proses penyembuhan selesai, lengkap sudah vaksin Gilang, dan dia dinyatakan sehat. Yang dikhawatirkan adalah kendala bahasa, karena tentunya dia bisa menurut gurunya, kalau dia mengerti apa yang gurunya katakan. Awalnya sudah pasti susah. Apalagi, day care disini agak berbeda sistemnya. Jam 1 sampai jam 3 sore, anak2 WAJIB tidur siang atau siesta. Belum lagi teman2nya yang semuanya pastinya berbahasa lain dengan dia. Tapi seiiring waktu berjalan, Gilang dengan cepat bisa mengerti instruksi dari guru2nya dan pastinya dia tidak sulit bergaul. Bahkan kata gurunya Gilang suka banget main dan dekat dengan teman cewek di kelasnya ( ck ck ck).




 Kemarin adalah hari terakhir Gilang di Halte Garderie St Arnoult, dan saya sempatkan mengambil beberapa foto. Minggu depan adalah hari libur sekolah, libur awal musim semi dan Paskah, dan kami pun akan segera pulang ke Indonesia. Jadi kemarin pun sekaligus perpisahan Gilang dengan teman2 dan gurunya. Setelah kembali dari Indonesia nanti, kami segera pindah ke kota lain, Chartres. Rumah baru, lingkungan baru, dan sekolah baru buat Gilang. Adaptasi lagi.Yang kuat ya nak???

Kemarin pun adalah hari terakhir les saya, sayang teman les saya ada yang tidak bisa datang, jadi tidak bisa say goodbye. Tapi saya sempatkan juga mengambil foto dengan guru saya, Anne dan teman les saya Luanda, berasal dari Kuba. Kursus bahasa Perancis ini diadakan oleh Central Cultural, atau lembaga sosial, dimana selain kursus bahasa Perancis, juga menjadi pusat seni dan kebudayaan. Jadi disini, anak muda( jeunesse) dan dewasa mulai usia 16 tahun bisa belajar berbagai hal yang berkaitan dengan seni dan kebudayaan Perancis, seperti seni musik, seni lukis, teater dan seni kontemporer. Awal bergabung, level saya masih dibawah teman kursus lainnya jadi saya kursus privat hanya dengan guru saya saja. Setelah itu saya bergabung dengan dua orang teman dengan background yang sama,  yaitu kami bertiga pendatang dan ibu muda. Yang menarik yaitu teman-teman yang lain juga belum lancar bahasa Perancisnya, tapi kami senang sekali ngobrol tentang anak-anak dan kehidupan rumah tangga kita hhehe alias ngerumpi. Jadinya sering sekali bahasa tubuh dan bahasa2 lain dikerahkan supaya bisa mengerti satu sama lain. Ini foto saya dengan Luanda, dan foto kedua dengan Luanda dan Anne guru bahasa Perancis saya.



Menurut saya adaptasi kali ini cukup sulit. Pertama, saya sudah tidak sendiri, berdua dengan Gilang. Jadi sering kali saya harus memikirkan bagaimana ini itunya Gilang, sebelum ini itu nya saya. Kedua, kendala bahasa. Bahasa sangat penting, itu alat komunikasi kita dengan orang lain. Awal kali tiba di Perancis, saya sulit sekali menerima kenapa orang Perancis tidak mau berbahasa Inggris. Jawabannya simple, pertama, mereka tidak diwajibkan di sekolah untuk berbahasa Inggris seperti kita di Indonesia dan negara2 berkembang di Asia lainnya, kedua, Perancis adalah negara yang sangat besar dan kaya budaya, dan salah satu warisan budaya yang mereka pertahankan dan jaga adalah bahasanya. Jadi kenapa harus berbahasa yang lain?? Pada akhirnya, saya bisa mengerti dan ketika bahasa Perancis saya sedikit lebih baik, semuanya pun terasa lebih mudah.  Saya bisa kesana kemari sendiri dan beli ini itu sendiri. See, the best way to learn a language is to speak it. Terakhir, kendala saya dalam beradaptasi adalah cuaca. Harus saya akui, winter di Eropa jauh lebih dasyat dari di Australia. Sangat dingin dan bener-bener tidak ada matahari sama sekali. Tapi sekarang sudah musim semi, dan tebak, musim seminya jauuuuhh lebih cantik dari di Australia. Jadi seperti terbayarkan hari-hari winter saya yang mellow dengan seribu satu keluhannya.

Begitulah kegiatan formal saya dan Gilang selama di Perancis selama tiga bulan ini. Menurut saya, banyak sekali progress kami berdua. Yang pasti, saya pastikan on parle un petit peu de Francais et on a  beaucoup des amis, jadi kami siap untuk beradaptasi dan berintegrasi lebih jauh. Ready or not, here we come.........

BiZZZZZ


Chinta

4 komentar:

  1. hay..hay..i think it's not just progress Ta, i think it's deeper than just progress, it's new you..senang mendengar kabar2mu...

    BalasHapus
  2. Selamat pagi mbak Chinta.. senang membaca ceritanya :D
    Hmmmmm,, memang anak kecil itu jauh lebih cepat menangkap sesuatu dan beradapatasi. Mungkin karena pikiran mereka masih jernih dan tidak terlalu banyak hal yang dipusingkan. Contohnya saya.. saat ini saya sedang belajar Perancis dan piano. Susahnya minta ampun! Selain harus belajar untuk membagi waktu dengan seksama tetapi juga kadang susah untuk konsentrasi full. Nanti lagi latihan piano - ehhhhh malah kepikiran kerjaan di kantor :).
    Tetapi saya yakin mbak Chinta pasti bisa karena lingkungan amat sangat mendukung. Saya jadi teringat pengalaman suami saya sewaktu dia belajar Perancis. Dia bilang susah tetapi kemudian dia terjun bebas sewaktu dia harus kuliah di Belgia. Mau tidak mau, dia "dipaksa" untuk berkomunikasi dengan bahasa Perancis. Akhirnya? Bahasa Perancisnya sekarang amat sangat fasih :D
    Keep the spirit up mbak! :D
    Salam
    vonny

    PS: BTW.. kalau mau comment diblog saya - tidak perlu buka account WP kok mbak.. cukup menuliskan nama dan alamat blognya. Kadang pusing juga euy.. tiap blog punya aturan yang berbeda :D

    BalasHapus
  3. Je vais vous voir à Jakarta...

    BalasHapus
  4. koyone wulan ngarep aq tak pindah prancis wae yo cyn... ben iso boso itali, soale pingin banget je nang itali trus numpak verari karo malinda dee..hmm...

    suk maneh nek mangkat nang prancis jak-jak yo

    BalasHapus